Tuesday, 13 October 2015

RENUNGAN PAGI SUDAHKAH KITA BERSYUKUR…?

☀��⛅

Ustadz ACT El Gharantaly حفظه الله تعالى

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar jantung kita tetap berdetak pagi ini..?

Tapi Alhamdulillah saat ini kita menikmati pagi dengan jantung yang masih berdetak, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar mata kita tetap sehat sehingga dapat kembali menatap indahnya pagi ini..?

Tapi Alhamdulillah pagi ini kita bangun dengan mata yang sehat, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar pagi ini kita masih dalam keadaan sehat wal afiyat?
Tapi Alhamdulillah.. Saat ini kita menikmati pagi dalam keadaan sehat wal afiyah, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar pagi ini kita masih bisa berkumpul bersama keluarga tercinta ?
Tapi Alhamdulillah.. Ternyata pagi ini semua anggota keluarga masih utuh dan semua dalam keadaan sehat wal afiyat, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar mobil kita tidak mogok atau kecelakaan.?
Tapi Alhamdulillah.. Pagi ini kita selamat sampai tujuan tanpa kurang sesuatu apapun, padahal kita tak pernah memintanya.

Kalau begitu. .. pernahkah kita berfikir bahwa ternyata ada begitu banyak karunia Allah yang kita nikmati, padahal kita tak pernah memintanya.
Lantas mengapa hanya karena satu do’a yang belum kunjung berjawab kita lalu berprasangka buruk kepada Allah. Kita seolah lupa semua karunia-Nya. Tanpa rasa malu lidah kitapun mengucapkan kalimat yang menggambarkan keputusasaan, “Saya sudah meminta.. tapi Allah tidak mengabulkan permintaanku”. Padahal bila Allah mengakhirkan pengabulan atas satu do’a pasti ada hikmahnya.

Bersyukurlah
Karena kita masih dapat menikmati pagi dalam keadaan sehat, semua organ tubuh masih berfungsi dengan baik, kita juga masih bisa makan, minum dan menjalani aktifitas pagi dengan suka cita, padahal kita tak pernah mengangkat tangan ke langit dan berdoa meminta semua itu. Tapi Allah memberinya karena kasih sayang-Nya. Ternyata begitu banyak yang belum kita syukuri…

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Mari bersama ucapkan Alhamdulillah…

�� Sumber: http://bbg-alilmu.com

****

Repost by :
�� SOBAT MUSLIM, Grup Sharing Kajian Islam Khusus Ikhwan (Laki-laki)
�� Admin: +62 853-1028-3995 (Daftar via WhatsApp, Ketik: Daftar#Nama#Kota Domisili)

SEBAB-SEBAB YANG DAPAT MEMBANTU UNTUK IKHLAS DAN KOKOH DIATAS AGAMA

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
✅����

▫Fadhilatu Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah
___________________

❓Apa sebab-sebab yang dapat membantu untuk ikhlas dan demikian juga untuk kokoh di atas agama ?

�� Jawaban:

Sebab-sebab yang membantu kekuatan iman,

�� Memperbanyak mengingat Alloh (dzikrulloh),
�� Membaca Al-Qur’an,
�� Mendampingi dan bermajelis dengan orang-orang shalih,

Ini termasuk dari sebab-sebab bagi kehidupan hati, dan untuk mengingat Alloh Azza wa Jalla, dan meninggalkan perbuatan sia-sia dan lalai yaitu meninggalkan apa-apa yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Alloh (dzikrulloh),

Alloh Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ) [سورة المنافقون : 9]

”Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [Qs. Al-Munaafiqun: 9]
___________________

ما الأسباب المعينة على الإخلاص وكذلك الثبات على الدين ؟

الجواب :

الأسباب المعينة قوة الإيمان،

الإكثار من ذكر الله،
وتلاوة القرآن، 
ومرافقة ومجالسة الصالحين،

هذا من الأسباب لحياة القلوب،  ولذكر لله عز وجل، وترك لهو والغفلة ترك ما يشغل عن ذكر الله،

قال تعالى:

(لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْخَاسِرُونَ).

�� المصدر الموقع الرسمي للعلاَّمة صالح الفوزان حفظه الله

ℹ http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15370

✫✫✫✫✫✫✫✫✫
��أصحاب السنة
�� ASHHABUS SUNNAH✪

☆DAKWAH☆

Oleh :

Al-Ustadz Syafiq ibn Riza ibn Hasan ibn Abdul Qadir Basalamah

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Akhi / ukhti, salâmullôh ‘alaikum…

Berdakwah menyampaikan agama الله adalah suatu kewajiban yang agung dan mulia…

Bahkan para pendakwah adalah kekasih pilihan الله…
Kita diperintahkan untuk menyampaikan agama الله pada setiap manusia…
Kepada mereka yang di pasar, di mall, di masjid, di lapangan, di jalanan…

Seorang pendakwah seyogyanya mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…

Sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم mendatangi majelis-majelis orang kâfir pada waktu Beliau berdakwah…

Ada yang berucap :

“ilmu itu didatangi, bukan datang kepadamu”…

Na’am, bagi seorang penuntut ilmu seyogyanya ia yang mendatangin para ustadz dan ‘ulama untuk menimba ilmu dari mereka…

Sebaliknya, sebagai seorang pendakwah, seharusnya ia mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…

Para pendakwah seharusnya mendatangi orang-orang yang berada di pedalaman, di pegunungan, sebagaimana mendatangi mereka di kota-kota… di perkantoran… di rumah-rumah… di mana ada ruang untuk menyampaikan agama الله… ia tidak boleh menyia-nyiakannya…!

Karena medan dakwah terlalu besar dan tantangan begitu dahsyatnya dengan jumlah penduduk yang tembus 230 juta…

Maka para pendakwah harus berbagi tugas…

Sebagian bergerak di dunia pendidikan…
Formal dan non-formal…

Ada yang tingkat dasar dan ada yg tingkat atas…

Ada yang GRATIS…
Ada yang murah…
Ada yang sedang…
Ada yang MAHAL BANGET dan tidak wajar untuk sebuah Pesantren Islâm…

Pada hakekatnya, PERBEDAAN itu bukan masalah…

Karena yang didakwahi memang berbeda…

Ada yang maunya formal, maka kita pun bikin yang formal…

Ada yang mau bagus dengan fasilitas tinggi, kita pun membuatnya…

Semuanya sedang berdakwah dengan segment yang beda…

Ada yang berdakwah lewat kajian-kajian…

Ada yang mau bikin kajian di perusahaannya untuk karyawannya, kita pun datang kepada mereka…

Ada yang bikin kajian khusus untuk keluarga di rumahnya, kita pun menyambutnya…

Ada yang bikin kajian khusus untuk anak-anak remaja, kita juga tidak membiarkannya…

Ada yang bikin seminar di kampus-kampus untuk mendakwahi para akademisi…

Ada yang membuat kajian khusus untuk para dokter di rumah sakit, kita pun bersegera mengiyakannya…

Ada yang bikin DAUROH KHUSUS untuk para ustadz di vila atau hotel dengan pemateri masyaikh kibar dari luar Indonesia, pesertanya terbatas dan pendaftarannya ketat, BUKAN KARENA INGIN MEMBATASI ILMU bagi penuntut ilmu yang lainnya, tapi ada maslahat dan target yang diburu…

Ada yang bikin kajian buat anak-anak yatim dan janda-janda tua, kita tidak menolaknya…

Ada yang membuat di musholla sebelah rumahnya, kita pun juga tidak meremehkannya…

Ada yang membuat kajian khusus para ummahat dengan tema dan kitab yang bermacam-macam, kita pun tidak sungkan untuk menghadirinya…

Ada yang fokus berdakwah di daerah pedalaman dan membendung kristenisasi, kita pun memberikan apresiasi yang besar kepada mereka…

Ada yang berdakwah lewat media, televisi, dan radio dengan segment yang berbeda-beda…

Terkadang ada yang bertanya kenapa ada beberapa televisi Ahlus-Sunnah, kenapa tidak hanya satu saja…?

Itulah hikmah dalam berdakwah, sasaran dakwahnya berjumlahnya 230 juta dengan berbagai kecenderungan dan level pendidikan yang berbeda-beda…

Ada yang berdakwah lewat tulisan dengan menerbitkan buku-buku yang dijual dengan harga variatif

Ada yang harganya mahal dengan kertas dan sampul buku yang lux, sehingga tidak bisa membelinya kecuali orang yang berdompet tebal…

Ada yang dengan harga standar dengan kertas yang biasa…

Semua dengan segmen yang berbeda-beda karena yang didakwahi memang beragam, bukan satu macam…

Ada yang berdakwah dengan membuat travel umroh dan hajji dengan harga yang disesuaikan dengan keinginan jama’ah…

Ada yang standar bintang 5 sehingga membuat jema’ah terbelalak melihat harganya…

Kenapa kok tidak 1 harga saja…?

Kan tujuannya adalah ibadah, thowaf dan sa’inya di tempat yang sama, kenapa harus pilih-pilih kamar dan membeda-bedakan jemaah…?

Tapi itulah salah satu hikmah dalam berdakwah, yang jadi sasaran memang mereka yang biasa tinggal di hotel bintang 5, kita tidak bisa memaksa mereka untuk ikut paket murah, dengan dalih tidak boleh boros dan berlebih-lebihan…

Ada yang melihat peluang mendakwahi orang-orang yang biasa berlibur di vila-vila mewah atau hotel-hotel berbintang, yang setiap pekan memadati jalan ke puncak, tanpa ada yang menyentuh liburan mereka dengan siraman rohani, maka sebagian ikhwan kita berpikir bagaimana liburan akhir pekan mereka lebih bermanfaat…

Semua sedang berdakwah dengan cara dan metodenya…

Nabi صلى الله عليه و سلم tidak pernah meremehkan siapa pun untuk di dakwahi…

Baik yang kaya, miskin, badui, atau orang kota, semuanya Beliau dakwahi…

Beliau tidak pernah membuang kesempatan dan peluang untuk berdakwah, walaupun celaan dan tuduhan keji sering beliau dapatkan…

Sungguh الله memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berdakwah dengan hikmah, sebagaimana firman-Nya:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu, Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS.An-Nahl : 125).

Di antara makna hikmah adalah memperlakukan tiap manusia sesuai dengan kondisinya,

Oleh karena itu, Nabi صلى الله عليه و سلم memperlakukan setiap ragam manusia sesuai dengan kedudukan dan karakternya…

Bahkan Beliau berpesan:

إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيْمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوْهُ

"Apabila datang kepadamu yang mulia dari suatu kaum, maka muliakanlah ia." (Shohîh Sunan Ibnu Mâjah II/303 no 2991 ~ hasan).

▶ Yang suka kehormatan, Beliau kasih kehormatan, seperti kisah Abû Sufyan…
Ibnu Abbâs رضي الله عنهما berkata:

“Tatkala penaklukan kota Makkah maka Abbâs ibn ‘Abdil Muththolib membawa Abû Sufyan ibn Harb, maka Abû Sufyan pun masuk Islâm di Marru ad-Zhorôn (nama suatu tempat dekat Makkah -pen).

Maka Abbas berkata kepada Nabi :

‘Wahai Rosûlullôh, sesungguhnya Abû Sufyan adalah seseorang yang suka kemuliaan, kalau seandainya engkau memberikan sesuatu untuknya?’

Maka Nabi berkata:

‘Iya, barang siapa yang masuk ke rumah Abû Sufyan maka ia aman, dan barang siapa yang menutup pintunya maka ia aman." 
(HR Abû Dâwûd no 3023 ~ dihasankan oleh Syaikh al-Albânî).

▶ Yang suka harta, Beliau kasih harta, seperti kisah ‘Amru ibn Taghlib…

‘Amru ibn Taghlib bercerita:

"Sesungguhnya Rosûlullôh pernah diberi harta atau tawanan, kemudian Beliau membagikannya, lantas Beliau memberikan sebahagian orang dan meninggalkan sebahagian orang. Maka orang-orang yang ditinggalkan (yang tidak diberi) mencela keputusan Rosûlullôh itu.

Kemudian Rosûlullôh memuji الله, setelah itu Beliau berkata :

‘Maka demi الله, sesungguhnya aku telah memberi sebahagian dan telah meninggalkan sebahagian, dan orang-orang yang kutinggalkan itu lebih aku cintai daripada orang-orang yang kuberi.

Akan tetapi aku memberi kaum yang aku melihat di hatinya masih ada kecemasan dan kekalutan, dan aku membiarkan kaum lain kepada apa yang dijadikan الله pada hati-hati mereka berupa kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah ‘Amru ibn Taghlib.’

(Kemudian berkata ‘Amru ibn Taghlib) Maka demi الله, tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali ucapan Rosûlullôh kepadaku tadi."
(HR.Bukhôrî, no.871).

▶ Yang memiliki iman kuat, maka Beliau berbagi cintanya kepada mereka, seperti kisah orang orang Anshor…

Imâm Muslim meriwayatkan, bahwa (Anas ibn Mâlik) berkata :

"Ketika Makkah telah ditaklukkan, Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم membagi-bagikan harta rampasan kepada orang-orang Quraisy.

Maka orang-orang Anshor pun berujar :

‘Ini sungguh-sungguh mengherankan.

Pedang kita masih basah oleh darah musuh, tetapi harta rampasan kita diberikan kepada mereka (orang-orang Quraisy)?’ Lalu ungkapan itu sampai kepada Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم,

Akhirnya Beliau pun mengumpulkan mereka.

Beliau bertanya:

‘Benarkah berita yang sampai kepadaku tentang ucapan kalian?’

Mereka menjawab :

‘Apa yang mereka sampaikan itu benar, ya Rosûlullôh! Mereka tidak berdusta.’

Maka Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda :

‘Apakah kalian tidak rela kalau mereka pulang dengan membawa harta benda Dunia, sedangkan kalian semua pulang ke rumah masing-masing bersama dengan Rosûlullôh?

Seandainya manusia berjalan di suatu lembah dan bukit, sedangkan orang-orang Anshor melewati lembah dan bukit yang lain, niscaya saya akan mengikuti lembah dan bukit yang ditempuh kaum Anshor."

Sikap berbeda Nabi صلى الله عليه و سلم kadang dipandang negative oleh sebahagian Shohâbat, namun setelah Beliau jelaskan bahwa manusia itu berbeda-beda dan cara menghadapinya juga berbeda… akhirnya mereka paham…

▶ Yang bodoh dan tidak mengerti, Beliau tidak langsung menegur dan memarahinya, seperti ketika ada Badui yang masuk ke dalam masjid lalu kencing, tentunya berbeda dengan sikap para Shohâbat yang ingin memukul dan memberi pelajaran kepadanya.

Itulah salah satu makna hikmah dalam berdakwah…

Semua pendakwah Ahlus-Sunnah harus bersinergi demi tercapainya cita-cita bersama…

Yang di pedalaman tidak perlu mencela da’i-da’i kota yang bergelimang harta…

Yang di musholla tidak perlu mencaci da’i-da’i yang muncul di televisi…

Yang di daerah tidak perlu menuduh da’i-da’i yang harga bukunya mahal dan tidak terjangkau..

Yang di kota juga tidak boleh melupakan saudara-saudara mereka yang di pedalaman, pedesaan, pegunungan yang mereka sedang menyelamatkan aqidah ummat dari taring dan cakar missionaris…

Semua sedang berdakwah, dan hendaklah berhusnuzhon kepada saudaranya…

Dan ingat AGAMA INI ADALAH NASEHAT…!

Bila muncul kekeliruan dan kesalahan atau pun penyimpangan, maka para da’i harus saling memberikan masukan dan nasehat…

Kita adalah saudara…

Di samping itu, setiap pendakwah tidak boleh lupa berterima kasih kepada para koordinator dakwah tempat di mana ia berdakwah, bahwa ia bisa duduk nyaman di atas kursi dengan mic yang sudah bisa dipakai, dan jama’ah yang duduk rapi, parkir kendaraan yang diatur, serta semua kenyamanan yang dirasakannya,

semua itu adalah hasil tangan orang banyak…

Kalau bukan karena mereka, tentunya setelah taufiq الله, niscaya para pendakwah akan mendapatkan berbagai kesulitan…

Untuk semua...
PERBAIKI NIAT
RAPATKAN SHOFF
BERGANDENGAN TANGAN SALING MENDO’AKAN
ALLÔHU AKBAR

Bila yang aku tulis ini benar, maka itu karena taufiq الله…

Bila salah dan kurang berkenan, maka itu dari diriku yg penuh dosa dan dari Syaithôn… الله & ROSÛL-NYA terbebaskan dari kesalahan itu…

Salamku.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين

Tuesday, 29 September 2015

Bingung mau di arti'in apa?

1. yang nggak pernah naik pesawat ngira naik pesawat enak | yang udah sering naik pesawat, rasanya bosen, lelah
2. yang nggak pernah keluar kota, nginep di hotel ngira itu semua keren | yang udah sering traveling, capek, pengennya mah dirumah aja
3. hidup itu sawang sinawang, saling memandang, kita kira dia enak | dia sudah sampai posisi itu, ternyata bagi dia nggak enak-enak juga
4. persis harta, orang mental miskin, ngirain bahagia itu letaknya pada duit | dia nggak ambil pelajaran, bahwa bahagia jelas bukan disitu
5. dalam Al-Qur'an sudah jelas, miskin dan kaya itu sama | sama-sama bala', sama-sama untuk menguji
6. jadi sayang banget orang yang seluruh hidupnya mikirin duit terus | ngetwit untuk duit, bikin akun untuk duit, usaha untuk duit, semua
7. sayang banget orang yang bangun pagi cuma mikirnya duit terus | gimana bisa punya rumah lebih luas, duit lebih banyak, sayang banget
8. kasian yang impiannya diukur pake duit, pengen punya 10 M, 100 M, 1 T | kasian, kasian, ujian kok dijadiin impian, dijadiin tujuan
9. bukan ga boleh kaya, bagus kalo bisa kaya, tapi bukan itu tujuannya | kaya itu selingan aja, sampingan, hasil ikutan, bukan jadi impian
10. itu kalo yang kamu cari bahagia loh ya, letaknya bukan pada harta | tapi menghamba total kepada Allah, habisin hidupmu untuk dakwah
11. keinget seorang tabi'in saat ditanya penguasa "kamu mau minta apa? nanti aku pasti berikan" | dia jawab, "maksudmu minta harta dunia?"
12. penguasa jawab "iya, kamu mau minta harta dunia berapa banyak? apa aja" | tabiin itu menjawab dengan jawaban mencengangkan penguasa
13. jawabnya "sama Allah yang punya dunia saja aku tak pernah meminta dunia, apalagi sama kamu yang tak memiliki dunia" | jlebbb
14. ini nasihat buat diri saya sendiri yang masih tamak akan dunia | juga bagi siapapun yang merasa sama penyakitnya sama saya

ustadz Felix Siauw

Tuesday, 18 August 2015

Wanita itu…

Pintu surga bagi ortunya sebelum menikah…
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Suami menjadi pintu surganya setelah menikah…
Dari Husain bin Mihshan radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menasehati kepada bibinya,
فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
Perhatikan, pergaulanmu terhadap suamimu. karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4/341)

Surga di bawah kakinya setelah punya anak…
Dari Muawiyah bin Jahimah, Rasulullah berpesan kepadanya,
قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
“Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” (HR. Nasai 3117)

��Kiriman dari
Ust. Ammi Nur Baist

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,

لا تغضب ولك الجنة

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)

Kedua, DIAM dan jaga lisan

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.

Ketiga, mengambil posisi lebih rendah

Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,

“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.

Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.

Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.

Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan,

القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)

Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

Mula Ali Qori mengatakan,

وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ

Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).

Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:

Hadis dari Ibnu Umar,

من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.

Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.

‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”

Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,

‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’

Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).

Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.

Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..

وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب

“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).

Kelima, Segera berwudhu atau mandi

Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,

Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,

‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’

Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,

‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,

الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل

Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.

Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.

(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).

Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.

Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).

Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,

إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه

Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).

Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,

يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي

Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)

اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah

[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Sunday, 9 August 2015

HOS Tjokroaminoto (1882-1934)

Khalifah adalah Milik Umat Islam Sedunia

Tanjung Priok. Mendengar nama pelabuhan yang berada di Jakarta paling utara itu tentu akan mengingatkan kaum Muslim terhadap tragedi makam Mbah Priok, seorang ulama penyebar Islam, beberapa waktu lalu yang menelan korban 144 orang luka, 3 orang tewas, dan 70 kendaraan habis dibakar.

Kaum Muslim pun kembali mengingat tragedi yang lebih dahsyat lagi yang terjadi 26 tahun lalu yakni pembantaian terhadap 400 warga termasuk Amir Biki, seorang dai penentang kedzaliman Orde Baru, oleh aparat militer pada 12 September 1984. Meskipun Panglima ABRI, saat itu, Jendral LB Moerdani menyebutkan bahwa korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka 53 orang.

Namun adakah yang mengingat kejadian bersejarah 84 tahun lalu di Tanjung Priok? Yap, saat itu, para santri, ulama para pemimpin ormas Islam berkumpul di pelabuhan itu. Ada apa?

Mereka kumpul di sana untuk menyambut keberangkatan dua orang ulama perwakilan Nusantara untuk Kongres Khilafah di Mekah, salah seorang ulama yang diutus tersebut adalah HOS Tjokroaminoto.

Pejuang Khilafah

Kaum Muslim saat ini, sedikit sekali yang tahu bahwa ternyata Tjokroaminoto adalah seorang ulama yang menyadari bahwa kaum Muslim wajib bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, begitulah nama lengkapnya. Lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882. Ia adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama RM Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintah saat itu. Kakeknya RM Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Meski keturunan Soesoehoenan Pakoe Boewono II, ia bukanlah seorang priyayi yang tunduk patuh pada penjajah, bukan pula penganut Islam abangan. Karena ia adalah salah seorang ulama yang peka bahwa negerinya sedang dijajah, maka pada Mei 1912, ia bergabung dengan ormas Sjarikat Islam.

Dalam wadah tersebut ia gigih melawan penjajahan Keradjaan Protestan Belanda sehingga menjadi ulama yang sangat karismatik dan berpengaruh di Nusantara.

Saat itu, Keradjaan Protestan Belanda terus berupaya memberangus setiap upaya kebangkitan kaum Muslim untuk melawan penjajahan dan membuat makar agar kaum Muslim di Nusantara semakin menjauh dari Khilafah dan merasa bukan bagian dari umat yang satu di bawah panji Laailahaillallahu Muhammadarrasulullah.

Namun, semangat Tjokroaminoto untuk membela Syariah dan Khilafah tidak pernah pudar. Maka, tatkala Khilafah Islamiyah dihancurkan Inggris, melalui konspirasi jahatnya dengan Mustafa Kemal Laknatullah pada 3 Maret 1924, dunia Islam mengalami kegoncangan.

Upaya-upaya menegakkan kembali Khilafah pun dilakukan. Tidak ketinggalan juga ulama-ulama dari Indonesia, termasuk Tjokroaminoto. Pada 1 Juni 1926, diselenggarakan Kongres Khilafah di Mekah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 orang utusan, yaitu HOS Tjokroaminoto (Central Sjarikat Islam) dan KH Mas Mansur (Muhammadiyah).

Penunjukan mereka ditetapkan dalam Kongres Al Islam ke-4 di Yogyakarta  (21-27 Agustus 1925) dan Kongres ke-5 di Bandung (6 Februari 1926). Mereka berdua berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, dengan kapal Rondo dan dielu-elukan oleh masyarakat. Sesampainya di Tanjung Priok, Jakarta, banyak pemimpin Islam yang menyambut mereka, bahkan memerlukan diri datang ke pelabuhan.

Sikap itu lahir dari keyakinan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam saat itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah. Bahkan Tjokroaminoto menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia.

Ditegaskannya pula bahwa khalifah merupakan hak bersama sesama Muslim dan bukan dominasi bangsa tertentu. Lebih tegas lagi, Tjokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Mekah dan Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia.

Makanya ia begitu semangat agar umat Islam di Indonesia mengutus perwakilannya ke Kongres. Tujuannya untuk “mempertoendjoekan moeka terhadap oemat Islam sedoenia”, dan “melakoekan segala oesaha jang ditimbang bergoena bagi oemat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai kelanjutan pemilihan khalifah.

Ia memahami betapa vitalnya peranan khalifah bagi umat Islam. Maka, ia menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka, “seolah-olah badan tidak berkepala”.

Namun sangat disayangkan pada Kongres Khilafah yang ke-2, saat itu Nusantara diwakili Hadji Agoes Salim (Sjarikat Islam) hasilnya sangat mengecewakan dan berdampak buruk hingga detik ini.

Pasalnya tuan rumah yakni, Raja Saud, yang merupakan antek penjajah Inggris itu, tidak menginginkan dibicarakannya masalah khilafah dalam kongres tersebut. Sehingga kongres tersebut gagal.

Penentang Penjajah

Tidak aneh bila Saud bersikap demikian, karena jauh hari sebelum Khilafah Turki Utsmani roboh, pada saat ia menjadi Wali (Gubernur) salah satu wilayah di Timur Tengah (kini wilayah tersebut disebut Kerajaan Saudi Arabia) ia bersekongkol dengan Keradjaan Protestan Inggris untuk memberontak kepada khalifah kemudian menyatakan diri sebagai raja.

Sedangkan di Indonesia, menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara dipaksa untuk menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).

Sehingga, meski tetap bergelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Dalam kondisi sosial politik seperti itulah Tjokroaminoto bangkit membangun kesadaran umat untuk melawan penjajahan Belanda. Maka ia pun berseru:

Tidak bisa manoesia mendjadi oetama jang sesoenggoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata jang sebenarnja, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soetji dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keotamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena “Tauhid” sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: Tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.

Ia pun mengkristalisasi ajaran Rasulullah SAW ke dalam paradigma Lima K yakni kemauan, kekuatan, kemenangan, kekuasaan, dan kemerdekaan. Cita-cita persatuannya ialah Innamal Mukminun Ihwatun dan motto juangnya adalah Billahi fi Sabilil Haq.

Tjokroaminoto memprioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat. Nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka akan memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Penjajah memahami itu, bahkan merumuskan terori yang disebut dengan teori Carl von Clausewitz, On War, bahwa untuk memenangkan perang, maka yang harus diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy’s will (penghancuran kemauan lawan).

Maka dengan Sjarikat Islamnya, Tjokroaminoto berhasil membangun kemauan umat untuk melawan penjajahan Belanda. Saat ini Belanda telah pergi, namun Indonesia belum benar-benar merdeka karena masih dijajah oleh Amerika.

Lantas sekarang rakyat Indonesia maunya apa? Tunduk patuh pada Amerika atau bangkit melawan dengan menegakkan Syariah dan Khilafah?[] joko prasetyo

Jika ingin konsultasi syariah islam dan bisnis islam bisa add
(Pembina Dakwah Islam dan Dakwah Muslimah)

Sikap terhadap pemimpin yang dzalim

Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -  January 25, 2013 Rosululloh shallahu alaihi wasallam bersabda : “Saya memberi wasiat kepada kalian...