Wednesday, 9 November 2011
Thursday, 3 November 2011
40 Juta Untuk Orang Tua Berhaji
Allah SWT berfirman: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua.”
(Qs. Al Ankabuut : 8)
(Qs. Al Ankabuut : 8)
Allah SWT berfirman: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua.”
(Qs. Al Ankabuut : 8)
(Qs. Al Ankabuut : 8)
Siang itu saat itikaf di sebuah masjid di bilangan Jendral Sudirman Jakarta datang seorang pria bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang dari kalangan berada, dari paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu.
Kami berbincang usai shalat Dzuhur di masjid tersebut. Selain kami berdua, ada teman-teman lain yang juga kala itu tengah bersama-sama melaksanakan itikaf bersama. Kami mencoba merenungi karunia apa saja yang pernah Allah SWT limpahkan selama hidup ini.
Satu per satu di antara kami mengutarakan karunia Allah yang dirasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang saleh bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.
Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah SWT sangat sayang kepada setiap hamba-Nya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah SWT.
Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.
“Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta,” menurutnya. “Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang,” lanjutnya.
“Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp. 40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong dan memang saat itu kami belum memiliki rumah. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?” Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.
Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan ak-hirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, se-hingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka.
Sifat dasar manusia, pelit, kadang selalu datang ketika manusia itu ditawarkan pahala keikhlasan yang tiada tara. Sifat itu akan mewujud dan tidaknya sangat bergantung bagaimana kita mengelolanya.
“Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini!. Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!” jelas Muchtar kepada istrinya.
Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp 7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup. Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji.
Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita. Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!
Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan Ilahi.
“Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah SWT Yang Mahapemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah SWT menepati janjinya.” jelas Muchtar.
Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah berikan daripada keinginan mereka semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karena-nya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!
Kami berbincang usai shalat Dzuhur di masjid tersebut. Selain kami berdua, ada teman-teman lain yang juga kala itu tengah bersama-sama melaksanakan itikaf bersama. Kami mencoba merenungi karunia apa saja yang pernah Allah SWT limpahkan selama hidup ini.
Satu per satu di antara kami mengutarakan karunia Allah yang dirasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang saleh bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.
Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah SWT sangat sayang kepada setiap hamba-Nya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah SWT.
Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.
“Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta,” menurutnya. “Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang,” lanjutnya.
“Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp. 40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong dan memang saat itu kami belum memiliki rumah. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?” Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.
Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan ak-hirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, se-hingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka.
Sifat dasar manusia, pelit, kadang selalu datang ketika manusia itu ditawarkan pahala keikhlasan yang tiada tara. Sifat itu akan mewujud dan tidaknya sangat bergantung bagaimana kita mengelolanya.
“Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini!. Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!” jelas Muchtar kepada istrinya.
Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp 7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup. Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji.
Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita. Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!
Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan Ilahi.
“Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah SWT Yang Mahapemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah SWT menepati janjinya.” jelas Muchtar.
Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah berikan daripada keinginan mereka semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karena-nya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!
Allah SWT berfirman: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua.”
(Qs. Al Ankabuut : 8)
(Qs. Al Ankabuut : 8)
Allah SWT berfirman: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua.”
(Qs. Al Ankabuut : 8)
(Qs. Al Ankabuut : 8)
Siang itu saat itikaf di sebuah masjid di bilangan Jendral Sudirman Jakarta datang seorang pria bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang dari kalangan berada, dari paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu.
Kami berbincang usai shalat Dzuhur di masjid tersebut. Selain kami berdua, ada teman-teman lain yang juga kala itu tengah bersama-sama melaksanakan itikaf bersama. Kami mencoba merenungi karunia apa saja yang pernah Allah SWT limpahkan selama hidup ini.
Satu per satu di antara kami mengutarakan karunia Allah yang dirasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang saleh bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.
Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah SWT sangat sayang kepada setiap hamba-Nya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah SWT.
Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.
“Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta,” menurutnya. “Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang,” lanjutnya.
“Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp. 40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong dan memang saat itu kami belum memiliki rumah. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?” Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.
Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan ak-hirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, se-hingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka.
Sifat dasar manusia, pelit, kadang selalu datang ketika manusia itu ditawarkan pahala keikhlasan yang tiada tara. Sifat itu akan mewujud dan tidaknya sangat bergantung bagaimana kita mengelolanya.
“Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini!. Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!” jelas Muchtar kepada istrinya.
Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp 7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup. Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji.
Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita. Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!
Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan Ilahi.
“Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah SWT Yang Mahapemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah SWT menepati janjinya.” jelas Muchtar.
Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah berikan daripada keinginan mereka semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karena-nya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!
Kami berbincang usai shalat Dzuhur di masjid tersebut. Selain kami berdua, ada teman-teman lain yang juga kala itu tengah bersama-sama melaksanakan itikaf bersama. Kami mencoba merenungi karunia apa saja yang pernah Allah SWT limpahkan selama hidup ini.
Satu per satu di antara kami mengutarakan karunia Allah yang dirasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang saleh bisa membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.
Maka satu demi satu masing-masing kami merasakan betapa Allah SWT sangat sayang kepada setiap hamba-Nya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah SWT.
Kini giliran Muchtar untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan dalam bidang pertambangan.
“Tidak melulu orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta,” menurutnya. “Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing orang,” lanjutnya.
“Saya ingat tahun 90-an, saya punya uang sekitar Rp. 40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong dan memang saat itu kami belum memiliki rumah. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah suci?” Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.
Selanjutnya Muchtar mengutarakan bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan ak-hirnya sang istri menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran goyah, se-hingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat orang tua mereka.
Sifat dasar manusia, pelit, kadang selalu datang ketika manusia itu ditawarkan pahala keikhlasan yang tiada tara. Sifat itu akan mewujud dan tidaknya sangat bergantung bagaimana kita mengelolanya.
“Namun saya bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua. Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini!. Apalagi sesampainya di sana, orang tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan membalas kebaikan ini!” jelas Muchtar kepada istrinya.
Ketegaran hati pun mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji (ONH) kira-kira Rp 7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan hidup selama di tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup. Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah suci untuk berhaji.
Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita. Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!
Hanya 3 bulan berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan Ilahi.
“Saya gak sangka pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360 juta! Saya kaget dan saya teramat bersyukur kepada Allah SWT Yang Mahapemurah. Sesampainya di rumah saya ceritakan ini kepada istri dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami merasakan betapa Allah SWT menepati janjinya.” jelas Muchtar.
Uang itu ia belikan mobil dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah berikan daripada keinginan mereka semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya, karena-nya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!
Tolong Beli Handuk Ini
Pagi itu, Yudi (bukan nama asli) sedang menyantap sarapan pagi bersama istri dan dua orang anaknya. Waktu saat itu menunjukkan pukul 05.20 WIB. Mereka bergegas menyantap sarapan. Itulah kebiasaan Yudi sekeluarga setiap hari. Mereka harus meninggalkan rumah setengah enam pagi kalau tidak ingin terlambat dalam aktivitas keseharian.
Namun dalam ketergesaan di pagi buta itu, terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Istri Yudi segera berhambur ke arah pintu depan. Di sana rupanya ada seorang ibu tetangga rumah beserta anaknya yang datang dengan sebuah bungkusan.
Ada apa, ibu?” tanya istri Yudi. “Boleh saya bertemu dengan pak Yudi?” tanya sang tamu.
Perempuan itu dipersilakan masuk. Ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan.
Usai itu, Yudi datang menyapa. Ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan.
Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, “Pak Yudi, tolong beli handuk ini…!”
***Perempuan itu dipersilakan masuk. Ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan.
Usai itu, Yudi datang menyapa. Ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan.
Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, “Pak Yudi, tolong beli handuk ini…!”
Yudi dan istri saling bertatapan heran. Setahu mereka sang tetangga ini tidak pernah berjualan. “Sejak kapan sang ibu ini berjualan handuk?” batin mereka berdua.
Namun mereka berdua merasa aneh, saat mereka membuka bingkisan yang disodorkan tiada lain adalah sebuah handuk bukan baru melainkan usang terpakai.
Yudi dan istri terheran. Mereka tidak mengerti apa maksud sang ibu menawarkan handuk usang. Setelah beberapa saat, Yudi pun mendapatkan sebuah pertanyaan untuk dilontarkan. “Kenapa ibu mau jual handuk ini? Tanya Yudi.
“Suami saya sudah beberapa hari gak pulang, Pak! Saya gak tahu apakah dia kabur karena kawin lagi atau sudah meninggal di jalan. Biasanya kalau lagi bawa truk ke Jawa, 1 minggu paling lama dia sudah pulang. Sampai sekarang sudah dua minggu lebih gak ada kabar. Gak ada telpon, sms atau apapun. Padahal di rumah saya gak punya uang dan makanan. Sudah 2 hari saya bilang ke anak-anak untuk sabar menahan lapar. Tapi tadi malam saya sudah gak kuat mendengar jerit anak-anak saya kelaparan. Tolong beli handuk ini, Pak…! Saya gak mau mengemis, saya juga gak berani ngutang. Tolong ya pak…!” ibu tadi menutup kalimatnya dengan nada memelas.
Yudi dan istri merasa lemas mendengarnya. Keduanya menghela nafas panjang. Bergegas Yudi dan istri masuk ke dalam kamar. Mereka tidak kuat mendengar keluhan tetangga. Namun, celakanya uang yang mereka punya hanya Rp 200 ribu saja. “Berapa yang pantas untuk diberikan?” gumam mereka berdua.
Akhirnya Yudi memutuskan untuk memberi uang sejumlah Rp 150 ribu. Padahal sebelumnya sang istri mengingatkan bahwa tanggal gajian masih seminggu lagi. Dari mana uang untuk makan dalam beberapa hari tersebut? Yudi menjawab singkat, “Allah pasti menolong kita!”
Yudi memberikan sejumlah uang di atas kepada tetangganya. Setelah ibu itu berpamitan, Yudi dan seluruh anggota keluarga pergi meninggalkan rumah. Rute yang dilalui adalah; mengantarkan anak-anak ke sekolah, lalu ke tempat kerja istri dan terakhir menuju kantor.
Yudi dan istri menikmati perjalanan rutin di pagi itu. Namun ada satu rasa di dalam hati mereka yang tengah bersemi. KEBAHAGIAAN & KEDAMAIAN, itu yang mereka rasakan.
***Energi kebaikan itu dirasakan oleh Yudi sepanjang hari. Senyum terus terkembang di wajahnya. Semua orang yang ia jumpai selalu menyapanya. Alangkah berkah hari itu Yudi rasakan.
Pukul 16.00 WIB hari itu usai shalat Ashar, Direktur SDM di kantornya memanggil Yudi datang ke ruangan. Tak terlintas di benak Yudi, ada apa gerangan?
Yudi mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Setelah duduk di sebuah kursi di ruang itu, Yudi bertanya ada apa gerangan ia dipanggil.
Wajah sang direktur terlihat ceria. Beberapa kali senyuman terulas di wajahnya. Yudi bergumam, ini mungkin menjadi satu lagi penambah keberkahan hari Yudi.
Setelah berbincang beberapa lama, sang direktur memberitahukan bahwa tahun ini seperti masa-masa sebelumnya perusahaan memberangkatkan 1 orang dari pegawai untuk berangkat ibadah haji. Direktur SDM itu memberitahukan bahwa pegawai yang beruntung tahun itu adalah YUDI!!!
Allahu Akbar….,! Tubuh Yudi berguncang hebat. Tak mampu menahan gemuruh dalam ruang batinnya. Ia pun bersyukur kepada Allah dan tersungkur sujud. Ia tidak hanya menjabat tangan sang direktur, saking girangnya ia memeluk tubuh sang direktur dan ia ucapkan terima kasih berulang kali.
***
Ia kembali ke rumah dengan hati berbunga. Rasanya kali itu adalah perjalanan pulang ke rumah yang paling indah yang pernah ia alami. Sambil memegang kemudi mobil, berkali-kali bulir air mata menetes di pipi Yudi. “Alangkah murahnya Allah!” hatinya memuji.
Yudi pun tiba di rumah. Setelah mobil diparkir, ia pun lari berhambur mencari istrinya. Istrinya terheran-heran melihat gelagat suaminya, kemudian ia pun menanyakan Yudi apa yang terjadi?
Yudi lalu menceritakan kabar gembira bahwa dirinya akan berangkat haji tahun ini.
Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun mengerti bahwa Allah SWT memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangga tadi pagi!
Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun mengerti bahwa Allah SWT memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangga tadi pagi!
Pagi itu, Yudi (bukan nama asli) sedang menyantap sarapan pagi bersama istri dan dua orang anaknya. Waktu saat itu menunjukkan pukul 05.20 WIB. Mereka bergegas menyantap sarapan. Itulah kebiasaan Yudi sekeluarga setiap hari. Mereka harus meninggalkan rumah setengah enam pagi kalau tidak ingin terlambat dalam aktivitas keseharian.
Namun dalam ketergesaan di pagi buta itu, terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang. Istri Yudi segera berhambur ke arah pintu depan. Di sana rupanya ada seorang ibu tetangga rumah beserta anaknya yang datang dengan sebuah bungkusan.
Ada apa, ibu?” tanya istri Yudi. “Boleh saya bertemu dengan pak Yudi?” tanya sang tamu.
Perempuan itu dipersilakan masuk. Ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan.
Usai itu, Yudi datang menyapa. Ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan.
Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, “Pak Yudi, tolong beli handuk ini…!”
***Perempuan itu dipersilakan masuk. Ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan.
Usai itu, Yudi datang menyapa. Ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan.
Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, “Pak Yudi, tolong beli handuk ini…!”
Yudi dan istri saling bertatapan heran. Setahu mereka sang tetangga ini tidak pernah berjualan. “Sejak kapan sang ibu ini berjualan handuk?” batin mereka berdua.
Namun mereka berdua merasa aneh, saat mereka membuka bingkisan yang disodorkan tiada lain adalah sebuah handuk bukan baru melainkan usang terpakai.
Yudi dan istri terheran. Mereka tidak mengerti apa maksud sang ibu menawarkan handuk usang. Setelah beberapa saat, Yudi pun mendapatkan sebuah pertanyaan untuk dilontarkan. “Kenapa ibu mau jual handuk ini? Tanya Yudi.
“Suami saya sudah beberapa hari gak pulang, Pak! Saya gak tahu apakah dia kabur karena kawin lagi atau sudah meninggal di jalan. Biasanya kalau lagi bawa truk ke Jawa, 1 minggu paling lama dia sudah pulang. Sampai sekarang sudah dua minggu lebih gak ada kabar. Gak ada telpon, sms atau apapun. Padahal di rumah saya gak punya uang dan makanan. Sudah 2 hari saya bilang ke anak-anak untuk sabar menahan lapar. Tapi tadi malam saya sudah gak kuat mendengar jerit anak-anak saya kelaparan. Tolong beli handuk ini, Pak…! Saya gak mau mengemis, saya juga gak berani ngutang. Tolong ya pak…!” ibu tadi menutup kalimatnya dengan nada memelas.
Yudi dan istri merasa lemas mendengarnya. Keduanya menghela nafas panjang. Bergegas Yudi dan istri masuk ke dalam kamar. Mereka tidak kuat mendengar keluhan tetangga. Namun, celakanya uang yang mereka punya hanya Rp 200 ribu saja. “Berapa yang pantas untuk diberikan?” gumam mereka berdua.
Akhirnya Yudi memutuskan untuk memberi uang sejumlah Rp 150 ribu. Padahal sebelumnya sang istri mengingatkan bahwa tanggal gajian masih seminggu lagi. Dari mana uang untuk makan dalam beberapa hari tersebut? Yudi menjawab singkat, “Allah pasti menolong kita!”
Yudi memberikan sejumlah uang di atas kepada tetangganya. Setelah ibu itu berpamitan, Yudi dan seluruh anggota keluarga pergi meninggalkan rumah. Rute yang dilalui adalah; mengantarkan anak-anak ke sekolah, lalu ke tempat kerja istri dan terakhir menuju kantor.
Yudi dan istri menikmati perjalanan rutin di pagi itu. Namun ada satu rasa di dalam hati mereka yang tengah bersemi. KEBAHAGIAAN & KEDAMAIAN, itu yang mereka rasakan.
***Energi kebaikan itu dirasakan oleh Yudi sepanjang hari. Senyum terus terkembang di wajahnya. Semua orang yang ia jumpai selalu menyapanya. Alangkah berkah hari itu Yudi rasakan.
Pukul 16.00 WIB hari itu usai shalat Ashar, Direktur SDM di kantornya memanggil Yudi datang ke ruangan. Tak terlintas di benak Yudi, ada apa gerangan?
Yudi mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Setelah duduk di sebuah kursi di ruang itu, Yudi bertanya ada apa gerangan ia dipanggil.
Wajah sang direktur terlihat ceria. Beberapa kali senyuman terulas di wajahnya. Yudi bergumam, ini mungkin menjadi satu lagi penambah keberkahan hari Yudi.
Setelah berbincang beberapa lama, sang direktur memberitahukan bahwa tahun ini seperti masa-masa sebelumnya perusahaan memberangkatkan 1 orang dari pegawai untuk berangkat ibadah haji. Direktur SDM itu memberitahukan bahwa pegawai yang beruntung tahun itu adalah YUDI!!!
Allahu Akbar….,! Tubuh Yudi berguncang hebat. Tak mampu menahan gemuruh dalam ruang batinnya. Ia pun bersyukur kepada Allah dan tersungkur sujud. Ia tidak hanya menjabat tangan sang direktur, saking girangnya ia memeluk tubuh sang direktur dan ia ucapkan terima kasih berulang kali.
***
Ia kembali ke rumah dengan hati berbunga. Rasanya kali itu adalah perjalanan pulang ke rumah yang paling indah yang pernah ia alami. Sambil memegang kemudi mobil, berkali-kali bulir air mata menetes di pipi Yudi. “Alangkah murahnya Allah!” hatinya memuji.
Yudi pun tiba di rumah. Setelah mobil diparkir, ia pun lari berhambur mencari istrinya. Istrinya terheran-heran melihat gelagat suaminya, kemudian ia pun menanyakan Yudi apa yang terjadi?
Yudi lalu menceritakan kabar gembira bahwa dirinya akan berangkat haji tahun ini.
Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun mengerti bahwa Allah SWT memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangga tadi pagi!
Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun mengerti bahwa Allah SWT memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangga tadi pagi!
Jangan Jadi Orang Konsisten!
Saya sering mendapat pelajaran untuk konsisten mengerjakan sesuatu. Tetapi saya dapat pelajaran lain dari orang tua angkat saya. Orang yang sangat saya hormati itu bernama Houtman Z Arifin (HZA). Dia memang bukan orang tua kandung saya. Tetapi dia seperti orang tua saya sendiri. Dia mengajarkan kepada saya agar tidak konsisten.
Saya sering mendapat pelajaran untuk konsisten mengerjakan sesuatu. Tetapi saya dapat pelajaran lain dari orang tua angkat saya. Orang yang sangat saya hormati itu bernama Houtman Z Arifin (HZA). Dia memang bukan orang tua kandung saya. Tetapi dia seperti orang tua saya sendiri. Dia mengajarkan kepada saya agar tidak konsisten.
HZA memulai bekerja dengan menjadi office boy (OB) di City Bank. Setelah 19 tahun mengabdi di City Bank dia menjadi vice president (VP) di perusahaan multinasional itu. Setelah menjadi VP dia masih sering berinteraksi dengan rekan-rekannya yang masih menjadi OB. Hingga suatu saat temannya protes kepada HZA, “Houtman kamu payah. Kamu gak konsisten. Kita nich konsisten…konsisten jadi OB,” mereka tertawa bersama.
Kita memang seharusnya tidak menjadi orang yang konsisten. Bukankah orang bijak pernah mengatakan “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin berarti dia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin dia celaka. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dialah orang yang beruntung.” Kalau konsisten berarti kita rugi khan?
Supaya hidup kita beruntung berarti tas hidupnya dibandingkan tahun lalu. Berarti Anda menjadi kelompok orang-orang yang merugi.Nah, sekarang Coba Anda merenung sejenak. Apakah kehidupan Anda hari ini masih sama dengan tahun lalu? Apakah prestasi Anda sama dengan tahun lalu? Apakah perhatian Anda kepada pasangan hidup Anda sama dengan tahun lalu? Apakah hutang Anda besarnya masih sama dengan tahun lalu? Apakah sahabat Anda juga masih sama dengan tahun lalu? Kalau masih sama berarti Anda menjadi orang yang rugi karena Anda masih konsisten.
Jadi mulai hari ini, Jangan Jadi Orang Konsisten karena akan membuat hidup Anda Merugi. Rencanakan tahun 2012, buatlah target-target yang membuat kehidupan Anda tidak konsisten seperti tahun 2011. Target yang Anda buat harus menunjukkan peningkatan bahkan bila perlu lompatan nilai bila dibandingkan tahun 2011. Selamat menyusun Target 2012.
Saya sering mendapat pelajaran untuk konsisten mengerjakan sesuatu. Tetapi saya dapat pelajaran lain dari orang tua angkat saya. Orang yang sangat saya hormati itu bernama Houtman Z Arifin (HZA). Dia memang bukan orang tua kandung saya. Tetapi dia seperti orang tua saya sendiri. Dia mengajarkan kepada saya agar tidak konsisten.
HZA memulai bekerja dengan menjadi office boy (OB) di City Bank. Setelah 19 tahun mengabdi di City Bank dia menjadi vice president (VP) di perusahaan multinasional itu. Setelah menjadi VP dia masih sering berinteraksi dengan rekan-rekannya yang masih menjadi OB. Hingga suatu saat temannya protes kepada HZA, “Houtman kamu payah. Kamu gak konsisten. Kita nich konsisten…konsisten jadi OB,” mereka tertawa bersama.
Kita memang seharusnya tidak menjadi orang yang konsisten. Bukankah orang bijak pernah mengatakan “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin berarti dia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin dia celaka. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dialah orang yang beruntung.” Kalau konsisten berarti kita rugi khan?
Supaya hidup kita beruntung berarti tas hidupnya dibandingkan tahun lalu. Berarti Anda menjadi kelompok orang-orang yang merugi.Nah, sekarang Coba Anda merenung sejenak. Apakah kehidupan Anda hari ini masih sama dengan tahun lalu? Apakah prestasi Anda sama dengan tahun lalu? Apakah perhatian Anda kepada pasangan hidup Anda sama dengan tahun lalu? Apakah hutang Anda besarnya masih sama dengan tahun lalu? Apakah sahabat Anda juga masih sama dengan tahun lalu? Kalau masih sama berarti Anda menjadi orang yang rugi karena Anda masih konsisten.
Jadi mulai hari ini, Jangan Jadi Orang Konsisten karena akan membuat hidup Anda Merugi. Rencanakan tahun 2012, buatlah target-target yang membuat kehidupan Anda tidak konsisten seperti tahun 2011. Target yang Anda buat harus menunjukkan peningkatan bahkan bila perlu lompatan nilai bila dibandingkan tahun 2011. Selamat menyusun Target 2012.
Sukses Mulia
Saya beruntung bisa bertemu Mr. Cheah di Brunei Darussalam. Ia adalah seorang guru besar bidang kesehatan, warga negara Australia yang bekerja di Brunei Darussalam. Dalam sebuah obrolan dia bertanya pada saya, “Pak Jamil, kapan seseorang dikatakan sukses? Apakah Pak Jamil sudah sukses? Siapa contoh orang sukses?”
Pertanyaannya menggelitik saya. Mestinya, secara sederhana, seseorang dikatakan sukses bila telah memiliki ’4-ta’ (harta, tahta, kata, cinta) level tinggi. Jauh di atas rata-rata kebanyakan orang. Level ’4-ta’ yang tinggi itu, diperoleh karena expertise (keahlian, core competence, prestasi) yang dimilikinya. Selain itu, ‘4-ta’ yang dimiliki juga diperoleh dengan cara yang fair, tidak melanggar etika serta ajaran agama yang dianutnya.
Bila orientasi hidup kita hanya sukses semata, hidup akan terisolasi. Egoisme niscaya muncul di dalam diri kita. Boleh saja harta kita berlimpah, memiliki jabatan bergensi, berpendidikan tinggi, atau menjadi buah bibir di media massa, tapi jiwa dan kehidupan terasa gersang. Bahkan boleh jadi, kita tak memiliki sahabat sejati, dibenci dan dimusuhi banyak orang.
SUKSES saja tak cukup. Kita perlu menambahkan satu kata lagi; MULIA. Orang bisa disebut hidup mulia bila ia mampu memberi banyak manfaat kepada orang lain. Orang mulia adalah orang yang senang berbagi. Elemen ‘4-ta’ yang telah diperolehnya, dibagikan secara benar dan tepat kepada siapapun yang memerlukan. Ajaran agama mengajarkan begitu., bahwa di setiap harta yang kita miliki terdapat hak kaum miskin (dhuafa). Harta yang kita miliki harus disucikan dengan berzakat. Ada juga mekanisme membagi harta selain zakat yakni dengan wakaf, infak-sedekah, persepuluhan atau kegiatan sosial lainnya. Inilah perilaku berderma.
Perilaku berderma akan menyebabkan kehidupan kita dipenuhi keberkahan dan keberuntungan. Dalam konteks kehidupan riil, korelasi berderma dan keberkahan/keberuntungan ini bahkan pernah disurvei. Majalah Swa edisi April 2006 melaporkan, orang kaya yang semakin banyak berderma ternyata dia semakin kaya.
Orang mulia akan selalu memanfaatkan tahta dan posisi sosialnya untuk melahirkan orang-orang hebat. Ia akan memberi kesempatan kepada orang-orang yang dipimpinnya untuk terus maju dan berkembang. Tak ada dalam pikirannya untuk ‘mematikan’ karir orang yang dipimpinnya. Tahta yang ia punya, digunakan menciptakan kader-kader berilmu. Ia akan mendelegasikan tugas-tugas yang menantang bagi orang yang dipimpinnya.
Orang mulia akan selalu memanfaatkan tahta dan posisi sosialnya untuk melahirkan orang-orang hebat. Ia akan memberi kesempatan kepada orang-orang yang dipimpinnya untuk terus maju dan berkembang. Tak ada dalam pikirannya untuk ‘mematikan’ karir orang yang dipimpinnya. Tahta yang ia punya, digunakan menciptakan kader-kader berilmu. Ia akan mendelegasikan tugas-tugas yang menantang bagi orang yang dipimpinnya.
Andrew Carnegie, orang terkaya di dunia abad ke-19, memiliki kader berilmu lebih dari 50 orang yang mengelilinginya setiap hari. Di atas batu nisannya tertulis: “Di sini terbaring seseorang yang dapat mencari orang-orang di sekitarnya yang lebih pandai daripada dirinya sendiri.”
Berbagi kata (ilmu), memberi manfaat bukan hanya kepada si penerima curahan ilmu tapi juga bagi si pemberi ilmu. Semakin sering kita berbagi kata (ilmu) maka ilmu yang kita miliki akan semakin dalam. Selain itu, dalam ajaran Islam orang yang menebar ilmu akan diberi reward luar biasa. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda ”Ketika anak adam meninggal putus seluruh amalnya kecuali tiga…”; salah satunya adalah ilmu yang diamalkan dan disebarluaskan. Para penebar ilmu akan terus menerus mendapat kiriman pahala meski dia sudah terbujur kaku di dalam bumi.
Berbagi cinta, bisa dilakukan sebagaimana yang dilakukan Mak Eroh. Seorang perempuan peraih penghargaan Kalpataru. Dia mampu menggali saluran air melewati 8 bukit dari kali Cilutung menuju desanya di Pasir Kadu, di Kabupaten Garut. Pada awalnya, selama 45 hari dia gali sendiri saluran air itu. Ia menerima banyak cemoohan karena orang-orang desanya menganggap apa yang dillakukannya adalah hal yang mustahil. Rasa cintanya pada warga desa yang kebanyakan miskin tak menyurutkan upayanya. Hasilnya, 60 hektar tanaman padi di kampungnya dapat dipanen 3 kali setahun.
Jadi, ukirlah terus expertise (prestasi dan core competence) kita agar mampu meraih level ’4-ta’ sempurna. Inilah cara meraih tingkatan sukses progresif, terus bergerak dan menanjak naik. Tapi jangan lupa, bagilah ’4-ta’ yang kita miliki kepada orang-orang di sekitar kita. Usai diskusi Mr. Cheah tersenyum. Sambil menjabat tangan saya dia berkata ”saya ingin termasuk orang yang SUKSES dan MULIA.”
(Diambil dari buku kedua saya: Menyemai Impian Meraih SuksesMulia - Gramedia)
(Diambil dari buku kedua saya: Menyemai Impian Meraih SuksesMulia - Gramedia)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Sikap terhadap pemimpin yang dzalim
Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc - January 25, 2013 Rosululloh shallahu alaihi wasallam bersabda : “Saya memberi wasiat kepada kalian...
-
Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc - January 25, 2013 Rosululloh shallahu alaihi wasallam bersabda : “Saya memberi wasiat kepada kalian...