Saturday, 24 March 2012

SEBUAH RENUNGAN.. MALU AKU?!

Kerajaan Saudi Arabia [Salafy Wahabi] selalu dihujat dengan berbagai macam hujatan yang buruk, keji dan sangat melampaui batas…
Tapi si penghujat selalu menyodorkan proposal bantuan..?! Dan menikmati semua fasilitas dari bantuan Kerajaan Saudi Arabia [Salafy Wahabi]….???!!!
Kami hanya ingin supaya kita semua bersikap adil, sportif dan obyektif. Hindari fitnah keji, bohong dan palsu.
Kita harus jujur, tidak ada kelompok atau golongan yg sempurna, benar semua 100 persen.
Juga, tidak ada kelompok yg salah semua 100 persen.
Salafy itu indah, baik dan sempurna krn mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf As-Sholeh [tiga generasi pertama ummat Islam]. Hanya saja, ada oknum yang kurang bijak cara dakwahnya, walau yang disampaikannya adalah benar.
Ulah oknum semacam ini juga ada dalam semua kelompok dan golongan ygan mencemarkan nama baik kelompok atau golongan tersebut.
Karena itu, kita tidak boleh menggeneralisir dengan menyalahkan semuanya padahal tdk semuanya spt itu, bahkan banyak yang tidak setuju dengan kesalahan seperti itu. Maksudnya, kesalahan dalam cara dakwah dan cara penyampaian.
Sungguh sangat memalukan ketika kita menghujat pihak tertentu tapi ternyata kita selalu meminta bantuan dan bahkan menikmati banyak fasilitas hasil bantuan pihak yang selalu kita hujat tersebut. Mohon maaf saudaraku, ini bukanlah sifat seorang KSATRIA!!!
Keprihatinan.. Krisis Akhlakul Karimah Dalam Berdakwah..
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi akhlakul karimah, bahkan ada sabda Nabi yang sangat terkenal dan telah dihapal oleh semuanya bahwasanya Beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Tapi realita yang ada berbicara lain. Justeru para pengemban agama adalah merupakan yang paling sering melanggar sabda Nabi tersebut dengan menghujat, menfitnah dan menjatuhkan siapa saja yang dianggap diluar golongannya dengan cara-cara yang tidak ilmiyah dan terkesan memprovokasi ummat.
Berbeda pendapat itu biasa dan wajar asalkan tetap dalam koridor yang masih bisa ditolerir [Ahlus Sunnah Wal Jama’ah] dan disampaikan dengan cara ilmiyyah, dewasa serta mengedepankan akhlakul karimah. Jangan marah dan emosi apalagi sampai menuduh dengan tuduhan keji dan terkesan membuat fitnah.
Kami meyakini bahwa perbedaan pendapat itu ada dan kami ketika membicarakan permasalahan yang terjadi perbedaan pendapat di dalamnya selalu dengan cara-cara ilmiyyah, dewasa dan mengedepankan akhlakul karimah serta menghindari kata-kata kasar, menghujat dan memprovokasi. Realita telah membuktikan hal ini dan semua rekaman masih tersimpan dengan baik.
Bukan berarti menyampaikan perbedaan itu tidak boleh. Silahkan saja menyampaikan perbedaan, hanya saja caranya yang ilmiyyah, bijak dan arif.
Kami ingin agar supaya ummat ini tidak hanya mendengar satu pendapat saja, akan tetapi mereka juga tahu pendapat yang lain sebagai tambahan ilmu dan pertimbangan. Bukankah di dalam agama Islam kita diwajibkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya agar supaya beribadah kepada Allah dengan benar dan baik karena berdasarkan ilmu dan bukan hanya ikut-ikutan saja apalagi sampai fanatik buta.
Sekarang ini sudah saatnya bagi ummat Islam untuk lebih terbuka lagi dalam mencari ilmu agama tanpa fanatik kepada golongan atau guru tertentu karena ummat sudah semakin dewasa dan sarana informasi telah berkembang pesat sehingga tidak ada alasan lagi bagi ummat Islam untuk mengatakan “tidak tahu”, akan tetapi yang lebih tepat adalah “tidak mau tahu”.
Karena itulah, melalui tulisan yang singkat ini kami ingin menyampaikan suara hati kami yang merupakan keprihatinan kami terhadap realita yang ada. Kami berharap kedepan nanti kita [terutama para ustadz, kiayi dan tokoh-tokoh agama] lebih waspada dalam menyikapi perbedaan pendapat dengan mengedepankan akhlakul karimah, kejujuran, kedewasaan dan sikap arif serta bijaksana.
Sekali lagi, perbedaan itu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Seseorang tidak mungkin bisa memaksa orang lain untuk mengikutinya apalagi sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan. Keyakinan itu tidak bisa dipaksakan.
Kami menyarankan kepada semua pihak untuk lebih waspada lagi dalam mengutarakan perbedaan pendapat dan ketika membantah pihak lain. Sebelum membantah sebuah pendapat, tulisan atau sebuah ceramah hendaklah disimak dulu isi pendapat, tulisan atau ceramah yang akan dibantah dengan seksama, teliti dan jeli dari awal sampai akhir sehingga memahami permasalahannya dengan pasti.
Jangan sekali-kali membantah sebuah pendapat, tulisan atau ceramah hanya karena mendapat informasi dari orang lain, karena ini adalah sumber fitnah yang sebenarnya. Seseorang ketika menyampaikan informasi kepada orang lain tentang sebuah ceramah, tulisan atau pendapat itu biasanya tidak terlepas dari ditambahi, dikurangi, dipelintir dan dipolitisir atau tidak lengkap dan tidak obyektif lagi, apalagi jika si penyampai menyampaikannya dengan emosional dan antipati tentu lebih runyam.
Inti dari semua ini adalah keikhlasan. Ikhlas dalam menjelaskan suatu permasalahan dengan niat supaya ummat beribadah kepada Allah dengan benar dan baik sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan para Sahabat Beliau Radhiyallahu ‘Anhum. Berdakwah mengajak manusia kepada Allah dan RasulNya agar selamat di dunia dan di akhirat. Bukan mengajak manusia kepada dirinya, kelompoknya, golongannya atau kepentingannya. Allah Maha Tahu niat kita semua.
Mari belajar ikhlas dan berlapangdada dalam menyikapi perbedaan pendapat [selama masih dalam koridor Ahlus Sunnah Wal Jama’ah], saling menghormati, menghindari menfitnah dan memprovokasi karena kita semua adalah bersaudara dan semoga kita semua pada akhirnya sama-sama masuk surga, Jannatul Firdaus, amiin ya Mujiibas saa’iliin…

Pada akhirnya, marilah kita renungkan firman Allah berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
[QS. Al-Maa'idah: 8]
Shalawat dan salam Allah selalu tercurah kpd kekasih hati, Rasulullah Muhammad, keluarga, sahabat dan pengikut yang setia sampai hari kiamat.
Dariku yang selalu mencintaimu dan menginginkan kebaikan untukmu;
Abdullah Sholeh Hadrami
Malang,
14 Muharram 1433
10 Desember 2011

Faedah Tentang Perpustakaan Pribadi Terbesar, Membaca Buku Yang Efektif dan Seni Berinteraksi Dengan Kitab

Salah seorang murid Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah yang bernama Khalid Asy-Syafi’i mengatakan; bahwa selama hidupnya ia belum pernah menyaksikan perpustakaan pribadi yang lebih besar dan lebih lengkap dari perpustakaan pribadi milik gurunya, Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah di Amman Jordania, padahal ia sudah keliling ke berbagai perpustakaan para ulama’, para masyayikh, para doktor dan para penuntut ilmu di berbagai negara, tapi hasilnya tetap saja, perpustakaan pribadi milik Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah adalah yang paling besar dan paling lengkap, tanpa tandingan. Ini menurut yang diketahuinya.
Khalid Asy-Syafi’i ini berkisah; bahwa ayah Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby rahimahullah pernah berkata kepada puteranya Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah:
“Kitab-kitab milikmu ini untuk membaca dan mengkhatamkannya membutuhkan umur yang panjang seperti umur Nabi Nuh alaihis salam, dan untuk membelinya membutuhkan harta sebanyak harta milik Qorun, serta untuk berinteraksi dengannya membutuhkan kesabaran seperti kesabaran Nabi Ayyub alahis salam”.
Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah berkata tentang perpustakaan pribadinya:
“Semoga [kitab-kitab ini] menjadi hujjah [argumentasi] yang membela kami dan bukan yang mencelakakan kami”.
Subhaanallooh!!!
Keterangan:
Fadlilatusy Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafidhahullah adalah termasuk salah seorang murid senior Muhadditusul ‘Ashr [Ahli Hadits Terbesar Abad Ini] Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.
Disarikan oleh Abdullah Shaleh Hadrami dari; http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=33453
Membaca Buku Yang Efektif
S Q R R R = Survey Question Read Repeat Resume
S — Judul & Pengarang, Penerbit & Tahun Terbit, Kata Pengantar & Daftar Isi, Rangkuman & Referensi.
Q — Buat Pertanyaan yang Ingin Dicari Jawabannya.
3R — Baca, Ulangi dan Simpulkan Isinya.
Seni Berinteraksi Dengan Kitab
Diantara Nasehat Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah dalam Kitabnya ‘Hilyah Thalibil Ilmi’ berkaitan Cara Berinteraksi Dengan Kitab:
“Jangan engkau membaca sebuah kitab sebelum mengetahui istilah yang dipakai oleh penulisnya, yang seringkali hal ini dijelaskan dalam muqaddimahnya. Oleh karena itu, mulailah membaca sebuah kitab dari muqaddimahnya.
Apabila engkau mendapatkan sebuah kitab, maka janganlah engkau masukkan dalam perpustakaanmu kecuali engkau sudah selesai membacanya secara sekilas atau engkau baca muqaddimah, daftar isi dan beberapa bagian dalam kitab tersebut. Adapun kalau engkau tumpuk saja bersama kitab yang sejenis dalam perpustakaanmu, maka barangkali tahun demi tahun berjalan dan umur pun semakin bertambah sementara engkau tidak sempat menelaahnya. Dan hal ini seringkali terbukti. Hanya Allah Yang Kuasa memberi taufiq”.
Semoga Bermanfaat, amien
Abdullah Shaleh Hadrami
Anjungan Minyak Chevron
West Seno Lepas Pantai Makassar
Ahad, 22 Muharram 1433 / 18 Desember 2011

Seputar Permasalahan Penulisan Kata ‘Amien’

Seringkali ada yang protes ketika seseorang menulis doa dan ditutup dengan kata ‘amien’, alasannya tidak boleh menulis ‘amien’ seperti itu karena menyerupai non muslim, akan tetapi yang benar adalah ‘aamiin’, dan semisalnya.
Benarkah demikian?
Kita sepakat dengan pelarangan tersebut jika penulisannya adalah ‘amen’ (tanpa huruf ‘i’) karena identik dengan non muslim, dan ini adalah pasti, insya Allah tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.
Adapun penulisa kata ‘amien’ (dengan huruf ‘i’) , maka lebih mengarah kepada perbedaan cara memindahkan dari bahasa Arab menuju bahasa Latin, dan tidak lebih dari itu. (Walaupun kadang kita dapatkan permasalahannya didramatisir sedemikian rupa sehingga tampak seakan-akan ‘cukup gawat’).
Masing-masing mempunyai cara dalam menuliskannya karena tidak ada rujukan yang baku dan pasti ketika memindahkan dari bahasa Arab menuju bahasa Latin, semuanya adalah hasil ijtihad manusia yang sering berubah-ubah kaidah-kaidahnya.
Jika kita melarang penulisan kata ‘amien’ dengan alasan tasyabbuh dengan non muslim, padahal tidak ada tasyabbuh di dalamnya, maka konsekuensinya cukup melebar dan meluas.
Contoh Konsekuensinya:
Penulisan kata ‘Allah’.
Jika kita melarang penulisan kata ‘amien’, maka kita juga harus melarang penulisan kata ‘Allah’ dengan alasan yang sama, tasyabbuh dengan non muslim. Gantinya adalah kita menulisnya dengan ‘Allooh’, dan seterusnya. Banyak sekali konsekuensinya.
Inti Permasalahannya:
Sebenarnya inti permasalahannya adalah tidak adanya rujukan yang baku dan pasti ketika memindahkan dari bahasa Arab menuju bahasa Latin, semuanya adalah hasil ijtihad manusia yang sering berubah-ubah kaidah-kaidahnya. Masing-masing mempunyai cara dalam menuliskannya sesuai dengan yang diyakininya, sehingga setiap waktu bisa berubah.
Tambahan Contoh:
Kata ‘Hadits’, apakah yang tepat di tulis seperti itu, atau ‘Hadis’, atau ‘Hadith’?
Kata ‘Shahih’, apakah yang tepat ditulis sepeti itu, atau ‘Sahih’, atau ‘Shohih’, atau ‘Sohih’?
Kata ‘Shahabat Nabi’, apakah yang tepat ditulis sepeti itu, atau ‘Sahabat’, atau ‘Shohabat’, atau ‘Sohabat’, atau ‘Shohabah’, atau ‘Sohabah’?
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Karena itu, selama hal ini hanya perbedaan cara memindahkan dari bahasa Arab menuju bahasa Latin, yang kesemuanya adalah hasil ijtihad manusia yang sering berubah-ubah kaidah-kaidahnya, dan masing-masing mempunyai cara dalam menuliskannya sesuai dengan yang diyakininya, maka hendaklah kita berlapangdada dalam masalah ini tanpa saling menyalahkan dan merasa benar sendiri. Kita kedepankan toleransi, tanpa bersikap keras dalam masalah-masalah seperti ini.
Hendaklah kita dahulukan ilmu sebelum berucap dan berbuat, bukan asal copy paste tanpa memahami permasalahan yang sebenarnya, karena diantara penyebab banyaknya perselisihan adalah ketika orang yang tidak mengerti ikut berbicara.
Semoga jelas dan bermanfaat.
Abdullah Sholeh Hadrami
Bumi Allah
30 Shafar 1433
24 Januari 2012

Berdoa Untuk Suriah..

Pembantaian di Suriah masih terus berlangsung, rakyat dibantai, besar, kecil, tua, muda, laki dan perempuan dibantai..
Kewajiban kita yang paling ringan adalah berdoa untuk mereka dan untuk saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya..
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di Suriah dan dimanapun mereka berada..
Ya Allah, bebaskan saudara-saudara kami yang berada dalam tawanan..
Ya Allah, merdekakanlah Masjidil Al-Aqsha dari cengkeraman Yahudi yang telah merampasnya dan kembalikanlah ke pangkuan kaum muslimin.. Ya Robb..
Pembantaian di Suriah
Pembantaian di Suriah

Pelajaran dan Faedah dari Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah; Ke Malang Lagi Setelah Tujuh Belas Tahun (Bag 2)

Kami mendapat informasi dari ustadz Muhammad Wujud bahwa kami [masjid An-Nur Jagalan Malang] dipilih untuk menjadi panitia kajian akbar Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah pada Pebruari 2012 dalam rangka safari dakwah di beberapa kota di Indonesia termasuk di masjid Istiqlal Jakarta. Informasi ini sudah kami dapatkan beberapa bulan sebelumnya dan sudah kami agendakan akan tetapi kami belum menginformasikan kepada ummat karena masih menunggu kepastiannya. Alhamdulillah, setelah ada kepastian bahwa kajian akbar di An-Nur akan dilaksanakan pada hari Sabtu 18 Februari 2012 barulah kami umumkan kepada kaum muslimin tentang kajian akbar tersebut.
Panitia penyelenggara pusat yaitu Syaikh ‘Ubaid As-Sindi hafidhahullah dari Madinah KSA memilih kami Masjid An-Nur untuk menjadi panitia. Hal ini disampaikan melalui ustadz Muhammad Wujud yang melaksanakan amanah dari Syaikh ‘Ubaid hafidhahullah.
Allah yang memilih kami menjadi panitia tanpa permohonan dari kami untuk menjadi panitia kemudian juga karena kami sudah lama bermuamalah dengan Syaikh ‘Ubaid dalam dakwah dan beliau percaya kepada kami, walillaahil hamdu wal minnah.
Siapakah Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah?
Beliau adalah dosen ilmu aqidah program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah dan pengajar tetap di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah, ayah beliau Fadlilatusy Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafidhahullah adalah juga ulama ahli hadits yang diakui oleh dunia dan sampai saat ini masih menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi Madinah An-Nabawiyyah yang majelis beliau banyak dihadiri oleh ummat Islam dari seluruh penjuru dunia, mulai dari orang awam sampai para doktor dan para ulama.
Sebelum kajian akbar di masjid An-Nur Jagalan Malang dilaksanakan, kami panitia sempat menemui rombongan para masyayikh yang datang dari Madinah, yaitu Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah, Syaikh ‘Ubaid As-Sindi hafidhahullah dan dua tamu lainnya. Kami menemui mereka di Sidoarjo pada hari Kamis 16 Pebruari 2012 ketika acara safari dakwah di Sidoarjo.
Kami datang ke acara di Sidoarjo terlambat sehingga acara sudah dimulai, qodarullah, saat itu jalan cukup macet. Begitu kami memasuki Komplek Sari Bumi Sidoarjo tempat berlangsungnya kajian akbar, kami langsung disambut dengan suka cita oleh Syaikh ‘Ubaid As-Sindi hafidhahullah karena kami sudah lama menjalin kerja sama dalam dakwah dengan beliau. Kami berbicara dengan beliau panjang lebar tentang berbagai hal yang berkaitan dengan dakwah dan safari dakwah kali ini. Hadir dalam pembicaraan itu diantaranya pak Iwan dan bang Salim Ganim, keduanya adalah termasuk jajaran takmir masjid An-Nur Jagalan Malang, ikut hadir pula dalam pembicaraan saat itu beberapa orang lainnya.
Setelah Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah selesai menyampaikan kajiannya, langsung kami diajak oleh Syaikh ‘Ubaid As-Sindi hafidhahullah untuk menemuinya. Ketika bertemu dengan beliau dan tahu bahwa kami panitia dari Malang, maka beliau langsung menyatakan; kami mau ke Malang dengan syarat, yaitu syaratnya sediakan apel dari Malang karena Malang terkenal dengan apelnya, dan kamipun menyepakatinya, walau kami yakin itu adalah canda beliau, canda Ulama’ yang bertujuan mencairkan suasana untuk menambah keakraban. Pelajaran dan faedah bercanda dari ulama’.
Setelah itu kami diajak makan siang bersama-sama dengan para masyayikh, asatidz, du’at dan panitia. Suasana cukup akrab, apalagi ketika kami mengingatkan Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah tentang daurah di Malang tujuh belas tahun yang lalu dengan segala kesederhanaannya. Beliau sangat senang mengingat hal itu dan dengan suka cita bercerita kepada teman-teman beliau bahwa saat itu transportasi yang dipakai adalah sepeda motor, yaitu beliau dibonceng sepeda motor.
Sebelum makan siang beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah sempat bertemu dengan murid-murid setingkat taman kanak-kanan di Komplek Sari Bumi Sidoarjo, beliau sangat akrab dengan mereka, berdialog, bercanda, sebagian minta foto bersama dan bahkan beliau beserta rombongannya membagi-bagikan uang kepada mereka sebagai hadiah. Pemandangan yang sangat indah dari seorang ulama’ dan penuh pelajaran serta faedah di dalamnya.
Setelah makan siang, tiba saatnya shalat Dhuhur di masjid kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar bagi para musafir dengan jama’ sekaligus qashar yang diimami oleh beliau langsung shalat Asharnya.
Setelah shalat dan berdzikir, kami temui beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah untuk mengatur acara di masjid An-Nur Jagalan Malang. Kami menawarkan kepada beliau agar supaya materi ketika di Malang diambil dari salah satu khotbah beliau yang telah diposting di website beliau www.al-badr.net berjudul ‘Man Al-Fa’iz?’ atau terjemahannya ‘Siapakah Orang Yang Sukses?’, ternyata beliau sudah mempersiapkan materi lain, yaitu ‘Saling Berpesan Untuk Berkasih Sayang’. [QS 90 Al-Balad Ayat 17] sambil beliau jelaskan inti materinya yang ternyata amat sangat bagus dan beliau meminta kami memilih. Karena kedua materi sama-sama bagusnya, maka kami meminta beliau menyampaikan keduanya dalam satu majelis, tapi beliau jawab tidak mungkin, harus dipilih salah satunya, akhirnya kami menyerahkan kepada beliau dan beliau memilih materi yang telah beliau rencanakan, yaitu ‘Saling Berpesan Untuk Berkasih Sayang’. [QS 90 Al-Balad Ayat 17], dan beliau meminta kepada kami agar supaya setelah beliau selesai menyampaikan materi tersebut agar kami meminta kesediaan beliau untuk menjelaskan materi ‘Man Al-Fa’iz?’ atau terjemahannya ‘Siapakah Orang Yang Sukses?’ dan beliau berjanji akan menjelaskannya pula.
Sebuah pelajaran dan faedah mendalam tentang dialog hangat dan terbuka, bahkan tawar-menawar materi kajian antara seorang ulama’ terkemuka dengan panitia penyelenggara dan berakhir dengan keputusan yang sangat bijaksana.
Setelah itu kami berpisah dengan beliau beserta rombongan dengan harapan ketemu lagi di Villa Trawas tempat beliau dan rombongan menginap untuk menjemput beliau beserta rombongan ke Malang, karena rencananya beliau beserta rombongan pada Jum’at malam atau malam Sabtu menginap di Villa Trawas, tapi ternyata berubah lagi rencana tersebut karena beliau beserta rombongan akhirnya menginap di hotel Santika Malang… [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]
Kajian Akbar di Malang 18 Pebruari 2012

Pelajaran dan Faedah dari Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah; Nostalgia Tujuh Belas Tahun Yang Lalu (Bag 1)

Ketika itu kami baru saja menyelesaikan kuliah di LIPIA [Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab] Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud Riyadl KSA, setelah kuliah selama tiga tahun untuk program I’dad Lughawi dan Takmili, tepatnya pada tahun 1996  M atau 1416 H. Kami sengaja tidak melanjutkan ke kuliah Syari’ah di LIPIA karena besar harapan kami bisa melanjutkan studi di Timur Tengah, dengan bertalaqqi [mengambil ilmu] langsung kepada para Ulama’ di sana.
Sebelum pulang ke kota Malang kami ikuti beberapa Daurah bermanfaat, diantaranya Daurah di Ma’had Al-Imam Asy-Syafi’i Cilacap selama beberapa hari yang diisi oleh para asatidz dari Indonesia.
Kemudian tanpa pulang ke kota Malang langsung berangkat menuju Ma’had Al-Irsyad Tengaran Salatiga Jawa Tengah untuk menghadiri Daurah selama beberapa hari yang langsung dipimpin oleh para Ulama’ dari Timur Tengah, diantaranya Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi hafidhahullah dari Universitas Islam Madinah KSA dan para masyayikh lainnya.
Beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi hafidhahullah adalah pakar ilmu aqidah terutama permasalahan Al-Asma’ Wa Ash-Shifaat [nama-nama dan sifat-sifat Allah]. Beliau banyak menulis kitab tentang  Al-Asma’ Wa Ash-Shifaat dan melalui tangan beliaulah Allah membukakan untuk kami  kemudahan dalam memahami permasalahan yang amat sangat penting tersebut, seakan merupakan kunci untuk mendalaminya setelah itu, alhamdulillah, wa jazahumullah khoir.
Daurah ini diikuti oleh para asatidz seindonesia termasuk para asatidz senior. Sebagai bentuk syukur kepada Allah, alhamdulillah, ketika diadakan ujian pada akhir Daurah tersebut, kami mendapatkan nilai tertinggi, rangking satu, bersama dengan ustadz Ahmas Fais, mudir Ma’had Imam Bukhari Solo dengan nilai sama. Dengan nilai seperti itu kami berharap bisa diterima di Universitas Islam Madinah karena saat itu kami langsung di tes oleh beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi hafidhahullah untuk penerimaan mahasiswa di  Universitas Islam Madinah tersebut. Tapi qodarullah, kami tidak diterima di Universitas Islam Madinah walau sudah beberapa kali ikut tes dan bahkan sempat rangking satu. Ternyata Allah menghendaki lain, Allah memilihkan untuk kami yang lebih baik, yaitu kami mendapat beasiswa untuk berguru langsung [bermulazamah] kepada seorang Ulama’ besar yang keilmuannya diakui dan dijadikan rujukan oleh ummat Islam di seluruh dunia, beliau adalah Guru sekaligus Ayah kami Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin rahimahullah di Unaizah, Al-Qasim KSA. Kami mulazamah kepada beliau selama empat tahun, sampai beliau wafat, rahimahullah rahmatan waasi’ah, amien. Sungguh segala sesuatu itu yang telah ditetapkan Allah itu pasti mengandung hikmah karena Allah adalah Al-Hakiim, dan kita harus pandai-pandai menyingkap hikmah dari setiap kejadian dalam kehidupan ini.
Setelah itu pulang ke Malang, dan ternyata di kota Malang telah menanti Daurah Ilmiyyah lagi yang langsung dipimpin oleh Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah, beliau memimpin Daurah ini seorang diri dengan kepanitiaan yang ditangani oleh teman-teman dari kota Malang. Ini adalah merupakan kunjungan beliau ke Indonesia untuk pertama kalinya, dan beliau sangat terkesan dalam kunjungan yang pertama kali ini.
Daurah di kota Malang ini berlangsung selama tiga hari bertempat di TK [Taman Kanak-Kanak] Al-Irsyad, sebuah tempat yang amat sangat sederhana. Daurah ini dihadiri oleh para penuntut ilmu, para da’i dan para asatidz dari seluruh Indonesia. Kami masih ingat betul, diantara yang ikut menjadi perserta Daurah ini adalah Al-Ustadz Aunur Rafiq Ghufron hafidhahullah, Mudir Ma’had Al-Furqan Gresik. Beliau adalah peserta paling sepuh dan kami amat sangat kagum dengan ketawadlu’an, keikhlasan dan kesederhanaan beliau yang mengingatkan kami kepada akhlak para salafush shaleh rahimahumullah, semoga Allah berikan kepada beliau keistiqomahan dan husnul khatimah, amien.
Daurah di kota Malang ini membahas beberapa materi, diantaranya;
1.    Kitab Al-Wala’ Wal Bara’ karya Fadlilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah.
2.    Al-Ushul As-Sittah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
3.    Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karya Al-Imam Ibnu Abi Dawud [wafat 310 atau 316 H] yang dikenal dengan Qashidah Ha’iyyah
4.    Hafalan Surat Al-Hujurat.
5.    Dan materi taushiah umum.
Selama Daurah berlangsung, beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah tidak tinggal di rumah mewah atau hotel berbintang, akan tetapi tinggal di sebuah kamar sederhana di salah satu sudut TK Al-Irsyad tempat daurah diadakan, bahkan kendaraan yang disediakan oleh panitia Daurah untuk transportasi beliau adalah sepeda motor, dan beliau mau dibonceng sepeda motor, bahkan beliau senang penuh suka cita saat dibonceng sepeda motor itu, subhanallah. Bukannya panitia tidak menghormati tamu, akan tetapi memang itulah kemampuan panitia Daurah saat itu, tujuh belas tahun yang lalu. Pelajaran ketawadlu’an, kerendahan hati dan keikhlasan kami dapatkan kembali.
Setelah shalat Jum’at di Masjid An-Nur Jagalan Malang –waktu itu masjid An-Nur Jagalan masih belum dibangun seperti sekarang ini- beliau kami ajak untuk makan siang di rumah kami bersama sebagian ikhwah dan asatidzah, alhamdulillah beliau sangat menyenangkan ketika kami menjamu beliau dan beliau menikmati hidangan yang ada dengan senang hati. Kami masih ingat betul, ketika itu di dekat beliau ada ‘perkedel’ dan sepertinya beliau cocok sekali dengannya.
Suasana Daurah dan berbagai kegiatan yang beliau adakan pada saat itu cukup santai, tidak terburu-buru dan benar-benar memuaskan karena tidak terikat oleh aturan protokoler yang menjadikan suasana terkesan kaku dan serba dipaksakan.
Sungguh benar apa yang selalu dinasehatkan oleh para salafush shaleh tentang pentingnya adab, karena dengan adab dan akhlak yang mulia dakwah ini menjadi semakin indah dan sempurna dan hal inilah yang menjadikan manusia tertarik untuk masuk ke dalam agama Islam. Berkata Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah: “Aku belajar adab tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu dua puluh tahun. Dan mereka dahulu [para salafush shaleh] belajar adab dahulu sebelum belajar ilmu”. [Ghayatun Nihayah Fi Thabaqaatil Qurraa' 1/198].
Siapapun yang mengenal beliau Fadlilatusy Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafidhahullah pasti mencintai beliau. Pertama kami melihat beliau langsung jatuh cinta, dan setelah bergaul dengan beliau ternyata cinta itu semakin bertambah karena ilmu, adab, akhlak dan berbagai sifat baik lainnya yang ada pada diri beliau, termasuk keakrabannya dengan para penuntut ilmu, ketawadlu’an, kerendahan hati dan keikhlasan. Tidak berlebihan jika kami katakan bahwa ilmu beliau ibarat lautan yang luas dan dalam. Tenang dalam penyampaian materi, jelas dan mudah dipahami oleh siapa saja yang mendengarnya. Ini adalah salah satu kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya… [Abdullah Shaleh Hadrami/ASH]
Belajar Adab Sebelum Belajar Ilmu

Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga..

Nasehat Untuk Para Isteri;
Lelaki Adalah Lelaki..
Laki-laki itu, siapapun dia, setinggi apapun ilmu dan kedudukannya tetap saja dia adalah lelaki yang tidak lain hanyalah;
‘Anak Kecil Bertubuh Besar [Thiflun Kabir]‘.
Cara memahami laki-laki itu sama persis dengan cara memahami anak kecil.
Nasehat Untuk Para Suami;
Wanita Adalah Wanita..
Siapapun dia, setinggi apapun ilmu dan kedudukannya tetap saja dia adalah wanita, yang suka disanjung, dipuja, dimanja, dirayu dan dicinta..
Hati wanita hanya mengenal satu kegembiraan di dunia ini, yaitu mencinta dan dicinta.
[Maaf, status ini khusus bagi yang sudah menikah saja, suami isteri. Yang belum menikah sabar yaa, buat bekal nanti.. Semoga segera ketemu jodohnya, dan mendapatkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, amien]
Keluarga Sakinah Harapan Setiap Insan

Sikap terhadap pemimpin yang dzalim

Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -  January 25, 2013 Rosululloh shallahu alaihi wasallam bersabda : “Saya memberi wasiat kepada kalian...