Sunday, 25 March 2012

Siapakah Pewaris Bumi?

Sungguh…. Bumi kita sangat luas, terbentang tak terhingga, kaya dan melimpah ruah, seolah tanpa batas. Banyak karunia yang telah Allah Swt. sebarkan di atas dan di dalamnya. Berapa pun jumlah makhluk yang ada di atas dan di dalamnya, sudah Allah jamin rizkinya. Tak satu pun makhluk yang Dia biarkan terlantar, hidup tanpa karunia.
Semua karunia telah Dia tebarkan dan tanam. Ditebarkan di atas permukaan bumi, dan ditanam di dalam perutnya. Semua yang hidup di muka bumi, atau di dalam perutnya, juga yang hidup di dalam samudera yang menggenanginya, telah Dia fasilitasi dengan berbagai anugerah yang tak terkira…
Wa maa min daabbatin fi al-ardhi illaa `alallaahi rizquha…” Tidak satu pun makhluk melata di bumi kecuali telah Allah jamin rizkinya…”, demikian firman Tuhan dalam Al-Quran (QS Hud, 11:6).
Jika setiap makhluk di bumi ini telah dijamin rizkinya, maka siapa pun tidak perlu cemas hidup kelaparan, tidak perlu khawatir mati karena tidak bisa makan… Sebab, rizki Allah ada di mana-mana, dan bumi-Nya sangat luas, “Yaa `ibaadiyalladziina aamanuu inna ardhii waasi`ah… …” –Wahai para hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas…
(QS al-Ankabut, 29:56)
Rizki-Nya ibarat sebuah hidangan di atas meja makan yang sangat besar, yang berisi berbagai jenis makanan… Bagaimana seseorang bisa menikmati hidangan itu? Tentu saja, ia harus mendekati meja makan itu, berusaha menuju ke tempatnya, dan berusaha mengambilnya. Sekalipun hidangan itu lezat dan sangat banyak, tentu saja semua hidangan itu takkan datang sendiri dan masuk ke mulut seseorang itu. Jika ia ingin menikmati hidangan itu, ia harus bergerak dan berusaha mengambilnya dari atas meja makan. Jika tidak, ia akan tetap tidak bisa menikmatinya, walaupun sedikit saja… Diam itulah yang membuatnya lapar, atau kelaparan.
Jadi, rizki Allah harus dijemput, diusahakan, diambil. Bukan ditunggu...!!!
Lalu siapakah pewaris bumi ini dengan segala kekayaan dan anugerahnya yang melimpah?
Allah Swt. –sebagai Pemilik dan Penguasa langit dan bumi– menjawabnya, “Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang salih...” (QS al-Anbiya, 21:105)
Alhasil, orang-orang salihlah pewaris kekayaan bumi ini. Merekalah yang berhak dan harus mengurus, mengelola, dan menikmati bumi.
Begitulah doktrin teologisnya: bahwa orang-orang salih adalah pewaris bumi dan kekayaannya.
Dan ketika sekarang “orang-orang salih” nampaknya tidak dalam kondisi sebagai orang-orang yang menikmati kekayaan bumi, itu berarti ada sesuatu yang salah… Secara teoritis –menurut Al-Quran– “Orang salih harus mewarisi bumi”. Doktrin ini sangat jelas dan lugas. Namun doktrin ini takkan bermakna apa-apa jika tidak diusahakan secara idologis.
Oleh sebab itu, orang-orang yang berusaha untuk hidup dalam kesalihan, kebaikan dan ketaatan kepada Allah; orang-orang yang tidak mau melanggar perintah dan mengabaikan tuntunan-Nya, harus bisa meraih anugerah kekayaan bumi yang telah Allah wariskan kepada mereka. Dan untuk itu, mereka harus berusaha…. Dalam bahasa sekarang, MEREKA HARUS BERBISNIS….!!!!
Orang-orang yang menjalani kesalihan hidup, harus berbisnis, berwirausaha, harus memiliki mindset dan aksi entrepreneurial… Menerima gaji yang bersifat fixed income, bukan berarti menghalangi seseorang untuk berwirausaha, mencari fadhlun minallaah (karunia dari Allah) dengan tidak terbatas dan dibatasi…
Mereka harus mengerahkan segenap kemampuan agar mereka memang layak disebut sebagai para pewaris bumi ini. Baik orang yang “gajian” maupun yang “bebas”, tetap bisa bertindak entrepeneurial… Sebab, tindakan itulah yang memberi ruang lebih bebas bagi seseorang untuk meraih karunia Allah lebih tidak terbatas dan tidak dibatasi oleh orang lain…. Hanya saja, pilihan dan tindakan ini pasti memerlukan kesabaran dan waktu. Karena, setiap kesuksesan jelas memiliki jalannya sendiri, dan juga waktunya sendiri.
UMAT ISLAM YANG SALIH adalah PEWARIS BUMI DAN KEKAYAANNYA….
Doktrin ini tidak boleh hanya sebatas doktrin; ia harus menjadi ideologi yang menggerakkan kita semua, umat Islam….
Tinggal kita ketahui dan cermati, apa yang dimaksud “orang-orang salih” yang disebut Al-Quran sebagai para pewaris bumi itu?
Semoga lain kali kita bisa membahasnya lagi secara khusus….
Bandung, 2 April 2010
Ashoff Murtadha

Mana Yang Kaupilih: Kepemilikan Legal, atau Kepemilikan Fungsional?

Seorang sahabat menceritakan:
Ada seorang kaya memiliki rumah besar. Tetapi ia tidak mendiami dan menikmatinya, karena itu bukan satu-satunya rumah yang ia miliki. Untuk perawatannya, ia menyuruh Mang Ocid untuk mengurusnya… Semua keperluan rumah, termasuk jika ada kerusakan, Mang Ocidlah yang diberi kewenangan untuk mengatasinya… Tentu saja, atas biaya si kaya tadi…
Orang kaya tersebut tetap harus memenuhi seluruh biaya dan risiko yang dituntut oleh rumah miliknya.. Padahal ia sendiri tidak bisa menikmatinya.. Ia memiliki tetapi tidak menikmati… Dalam catatan administratif, rumah itu adalah miliknya.. Tetapi fungsinya justru dinikmati orang lain…
Bagaimana dengan Mang Ocid…? Selain bisa meninggali rumah yang mewah, besar dan nyaman (yang takkan mungkin bisa ia beli), ia bahkan digaji oleh si kaya tersebut 1,5 juta per bulan… Ia bukan hanya menikmati fungsi rumah, tetapi bahkan dibayar cukup mahal setiap bulan… Ia tidak perlu bekerja lain untuk menghidupi diri dan keluarganya… Dalam catatan tertulis, Mang Ocid bukanah pemilik rumah megah itu… Namun justru dialah penikmatnya.. Ia menikmati fungsi rumah dan dibayar, sekalipun legalitasnya dimiliki orang lain…
Dalam istilah Agus Efendi (Master Trainer SuperMotivasi ATC – Achivement Technology Center), si kaya itu hanyalah pemilik legal, sedangkan Mang Ocid adalah pemilik fungsional… Banyak orang yang menggenggam kepemilikan legal, namun mereka tidak bisa menikmati dan menguasainya secara fungsional… Mereka bernafsu untuk membeli dan memiliki, sekalipun mereka tidak bisa menikmati… Apakah kausebut mereka ini orang-orang beruntung…?
Sebaliknya, banyak orang yang tidak tercatat sebagai pemilik legal dari suatu properti atau kekayaan apa pun… Namun mereka adalah penikmat langsung dari sejumlah kekayaan yang mereka kelola… Sekalipun mereka tidak membeli dan memiliki, tetapi mereka menguasai dan menikmati, bahkan dibayar memadai…. Apakah kausebut mereka orang-orang malang karena tidak bisa membeli dan memiliki…?
Orang kaya di atas tidak bisa menikmati kekayaannya, tetapi harus selalu menunaikan semua risiko yang dituntut oleh kekayaannya, dan akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban atas kekayaan yang tidak ia nikmati….
Enakan juga Mang Ocid …!!!
Dan agaknya di tengah kerumunan besar orang-orang yang bernafsu ingin menjadi kaya (yang filosofinya adalah memiliki dan memiliki), maka mungkin perlu juga dibangun kesadaran publik untuk menjadi BARISAN MANG OCID sebanyak mungkin… Sebab, tanpa banyak Mang Ocid, kekayaan yang harus melahirkan manfaat yang sebesar-besarnya itu, akan sia-sia dan segera punah…
Apalagi jika figur Mang Ocid itu tidak saja berjumlah banyak, tetapi mampu menjadi PENIKMAT YANG PRODUKTIF DAN MEMPERBESAR NILAI….
Maka, manakah yang hendak kaupilih: kepemilikan legal, ataukah kepemilikan fungsional…?
Bandung, 14 Januari 2011
Ashoff Murtadha

Setiap Kesuksesan Memiliki Jalannya Sendiri

etiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri. Dan jalan sukses setiap orang tidak selalu sama dengan yang lainnya. Selagi ia meniti jalan sukses yang tepat, dan ia terus berjalan di atasnya, tidak menyimpang, atau tidak berbalik arah, maka ia pasti akan sampai pada kesuksesan yang ia tuju.  Man saara `ala al-darbi washala… (barangsiapa berjalan di atas jalan, maka ia akan sampai)....

Yang membedakannya dari orang-orang lainnya adalah apakah ia akan sampai lebih cepat, atau lebih lambat.  Dan ini masalah tehnis yang harus diatasi…

Jadi, seseorang tidak perlu cemas bila ia belum meraih sukses. Yang harus ia cemaskan adalah bila ia salah meniti jalan. Ia harus memastikan sejak awal bahwa jalan yang dititinya itu benar dan tepat. Secepat apa pun ia berjalan, jika jalan yang ia pilih adalah salah, maka selamanya ia takkan pernah sampai pada tujuan sukses.
Namun, bila jalan yang ia ambil adalah benar, dan ia terus berjalan di atasnya, terus dan terus berjalan…. maka sekalipun terlambat, ia akan tetap sampai juga…. Tidak perlu ia pedulikan apa kata orang dan apa peniliaian mereka.. Yan harus ia pedulikan adalah bagaimana terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas dalam perjalanannya….
Setiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri. Sebuah jalan yang mengantarkan seseorang pada sebuah kesuksesan, belum tentu bisa mengantarkannya pada sebuah kesuksesan yang lain. Mungkin sebagian ruas jalan itu ada yang sama-sama bisa mengantarkan orang tersebut pada beberapa kesuksesan. Seperti halnya sebuah ruas jalan tol bisa mengantarkan seseorang menuju ke beberapa kota tujuan. Namun pada ruas-ruas jalan berikutnya, setiap kota memiliki jalurnya sendiri agar seseorang bisa sampai kepadanya.
Ada TIGA TIPE orang berkenaan dengan sukses:
Pertama, bila seseorang menuju TARGET SUKSES-nya dengan kecepatan tinggi, tancap gas tinggi-tinggi, dengan tingkat konsentrasi yang baik, dengan perhatian yang fokus dan utuh, dengan target waktu yang direncanakan…. Maka ia akan segera sampai lebih awal –ia akan mengalahkan banyak orang-orang lain, bukan saja orang-orang yang berangkat sama dalam satu titik start bersamanya, tetapi juga ia akan menyalip orang-orang yang telah lebih dahulu berangkat di depannya.
Ketika ia telah sampai pada target itulah, orang-orang menyebutnya sukses. Karenanya definisi sukses adalah sebuah kondisi ketika seseorang telah sampai pada tujuannya. Inilah ORANG SUKSES VISIONER… Orang yang mencapai sukses dengan berbekal rencana dan target… Orang seperti ini SANGAT LANGKA, tetapi tetap ada di tengah-tengah kita. Dan siapa pun, termasuk kita, berhak untuk menjadi ORANG UNGGUL ini..
Kedua, bila ia menuju TARGET SUKSES itu dengan cara berjalan yang pelan, kecepatan yang sedang-sedang saja, tancap gas yang rata-rata, maka tentu ia sampai di tujuan sukses dengan terlambat. Ia akan tetap sampai di tujuan, asal ia terus berjalan, tidak berhenti dan menghentikan perjalanannya. Namun ia telah didahului oleh banyak orang –baik oleh orang-orang yang berangkat lebih dulu darinya, maupun oleh orang-orang yang menyalipnya dari belakang…
Pada saat masyarakat melihatnya belum sampai juga di tempat tujuan, maka mereka akan menyebutnya gagal. Jadi, kegagalan adalah ketika seseorang belum sampai di tujuannya. Namun sejujurnya orang itu bukanlah orang gagal… ia hanya orang yang terlambat sukses. Untuk orang seperti inilah berlaku pepatah “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.” Tipe orang seperti ini adalah tipe ORANG SUKSES YANG TERLAMBAT… Jumlah orang ini banyak sekali… Kita bisa menemukannya di dekat kita –atau jangan-jangan orang itu adalah kita sendiri..
Ketiga, bila seseorang menuju tempat itu dengan kecepatan di bawah rata-rata, menarik gas yang sekadar asal kendaraan tetap bisa beranjak dari tempat semula, lalu berhenti-berhenti, atau mampir sana mampir sini…. Ketika ada yang menarik hatinya di perjalanan, ia berhenti, melihat-lihat, kemudian asyik di perhentiannya itu… Maka, orang seperti ini sangat diragukan untuk bisa sampai di tujuannya. Tidak ada jaminan baginya untuk tetap berkeinginan melanjutkan perjalanan sukses.
Mungkin karena banyak berhenti, atau mampir kiri kanan, sehingga terlena, maka ia sudah tidak lagi bersemangat untuk bisa sampai di tujuannya… atau jangan-jangan ia malah sudah melupakannya sebagai sebuah kejaran dalam hidup yang tersisa… Mungkin ia sudah menetapkan dalam hati bahwa sukses bukan lagi jalan hidupnya, bukan takdir yang harus ia pilih, bukan kenyataan yang harus ia perjuangkan… Ia mungkin akan kembali ke tempat sebelum ia berangkat… atau menetap di tempat ia berhenti yang boleh jadi lebih buruk dari tempat ia memulai perjalanan.
Orang ini adalah ORANG SUKSES YANG TIDAK JADI. Da inilah THE REAL LOSER, pecundang yang sesungguhnya. Inilah pula yang disebut dengan ORANG GAGAL. Kegagalan adalah menghentikan perjalanan menuju target sukses… Dan orang tipe ini tentu jauh lebih banyak lagi dari tipe kedua…..
Akan tetapi, JANGAN REMEHKAN orang gagal, orang yang ada pada kondisi tipe ketiga ini… Dunia tidak ada yang abadi…. Dunia terus bergerak…. Jika mindset-nya telah berubah positif, jika kesadarannya telah pulih kembali, jika semangat suksesnya kembali menggelora dan membakar… Maka, ia bukan saja dapat meraih suksesnya (walau terlambat), melainkan ia bisa menyalip orang-orang yang sebelumnya ada pada tipe kedua…
Lalu… di manakah posisi kita???
Yang jelas, TETAPLAH PADA JALAN SUKSES… JALUR SUKSES…
Terus berjalan di atasnya, dan selalu mempersiapkan diri lebih baik agar siap tancap gas tinggi, sehingga segera sampai di tujuan….
Tetap BERTEKAD dan BERJUANG, suatu saat kita akan meraih dan menikmatinya…. Bi`aunillah…
Adalah tidak dibenarkan bila seseorang yang baru belajar mengemudi kendaraan, lalu ia berjalan di atas jalan raya untuk jalur cepat, dan ia tancap gas tinggi-tinggi… Tindakan tersebut berdampak pada resiko kecelakaan yang membahayakan dirinya dan orang lain di dekatnya. Orang seperti itu seharusnya melalui jalan biasa yang tidak rawan kecelakaan. Untuk sementara ia cukup berada di jalur lambat. Manakala ia telah siap, kecakapannya meningkat, memiliki ketangkasan dan keterlatihan mengemudi yang mumpuni, barulah ia melintasi jalan raya…
Setiap kesuksesan memiliki jalannya sendiri…
Ia juga memiliki waktunya sendiri….
Dan kita harus bersabar mengelola visi sukses kita… Bersabar artinya bersiap hidup prihatin… Bersabar untuk tidak terganggu oleh pandangan orang-orang yang melihat kita dengan keraguan (atau mungkin ledekan dan cemoohan)… Dan bersabar untuk terus berupaya mewujudkan sukses yang sudah kita rencanakan, dan kita visikan….
Idzaa faraghta fanshab…. –jika sudah luang, teruskan bekerja keras….
Kamis 6 Mei 2010
Ashoff Murtadha

“Genggamlah Kekayaan…”

Apakah engkau ingin MENJADI kaya…?
Jika engkau belum mencapai keinginan itu, sebaiknya mempertimbangkan lagi keinginan itu, apakah akan engkau perjuangkan atau tidak… atau mungkin sebaiknya engkau akan mengubahnya menjadi keinginan yang jauh lebih baik…
Namun jika sekarang engkau sudah mencapainya, dan saat ini tengah MENJADI orang kaya, maka sangat boleh jadi kekayaanmu kini sedang melilit diri dan kesadaranmu…
Tubuhmu mungkin tengah senang menikmati sejumlah kemudahan hidup yang tidak bisa dinikmati oleh kebanyakan orang yang tidak kaya sepertimu… Tetapi jiwa dan hatimu sangat mungkin kini tengah dibelit dan ditawan oleh kekayaan yang akan menghempaskanmu dan orang-orang terdekatmu suatu saat…
Maka berusahalah segera untuk melepaskan diri dari lilitan yang menyesakkan itu… Dan coba pertimbangkan, mungkin sebaiknya engkau mengubah caramu memandang kekayaan…
Kekayaan itu jelas tidak buruk… bahkan sesungguhnya ia baik, karena Allah pun adalah Zat Yang Mahakaya…
Namun, caramu melihat dan memperlakukan kekayaan itulah yang bisa membuat kekayaanmu tidak memberimu manfaat selain keburukan dan kehancuran …
Maka…
Daripada “Aku ingin MENJADI orang kaya,” mungkin sebaiknya diganti menjadi, “Aku ingin MENGGENGGAM kekayaan….” Dan engkau harus berjuang untuk bisa menggenggamnya benar-benar…
Kekayaan cukup engkau genggam, dan tidak perlu kaujadikan ia bagian dari dirimu… Menggenggam kekayaan berarti menjadikannya alat bagi tujuan yang hendak kaucapai… sehingga kekayaan itu tidak pernah masuk dalam jiwamu, menjadi bagian dari dirimu, tidak menawan hati dan kesadaranmu… Engkau bisa menikmatinya, tapi tidak perlu kaujadikan ia bagian dari dirimu…
Menggenggam kekayaan bisa berarti suatu saat engkau membawanya ke tempat-tempat terdekatmu, atau berupa aset-aset yang tercatat sebagai kepemlikanmu… tetapi juga bisa berarti engkau bisa mengendalikan, mengatur dan menikmatinya, tanpa harus memilikinya … Sebagaimana engkau bisa mengendarai dan menikmati mobil mewah dan nyaman tanpa harus engkau membelinya…
Engkau bisa mengendalikan dan mengelola kekayaan di mana-mana yang bisa kaujangkau, tanpa engkau harus menjadikannya dalam status kepemilikan… Dan itulah kekayaan yang takkan membuat hatimu tertawan, dan kesadaranmu tertahan….
MENGGENGGAM kekayaan, berbeda dengan MENJADI kaya…!
Engkau tidak perlu menjadi kaya, karena yang kaya hanya DIA satu-satunya…
Tentang kekayaan… engkau hanya perlu menikmatinya…
Dan menikmati tidak harus mempunyai…!
Menguasai bukan berarti harus memiliki….!
Agar engkau bebas membebaskan…!!
Semoga…!!!

Perjuangkan Kebaikan Hidup dengan Gagah Berani

Kebaikan kualitas hidup harus kauperjuangkan dengan gagah berani… harus kauupayakan dengan percaya diri…!!!
Sikap minder hanya akan membuat hidupmu terus memburuk… Sehingga kebaikan yang kauharapkan, akan menjadi keburukan yang kaudapatkan…
Maka, jika mereka sangat pede berbuat buruk, mengapa engkau minder berbuat baik….?! Jika mereka sangat berani menghancurkan, mengapa engkau takut membangun…?! Jika mereka sangat gagah dan mantap menyebarkan kesulitan bagi orang, mengapa engkau loyo dan ragu memproduksi kemudahan bagi mereka…?!

Keberanian, kepercayaan diri, keyakinan diri, kemantapan hati, adalah nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang baik… Sayangnya, tidak sedikit orang buruk yang justru telah memanfaatkan nilai-nilai itu untuk memberhasilkan keburukan mereka, justru saat orang-orang baik belum mengerti manfaatnya bagi mereka…
Maka, perjuangkan kebaikan hidup dengan percaya diri dan gagah berani…!
Bandung, 8 Pebruari 2011
Ashoff Murtadha

Saturday, 24 March 2012

FATWA MUI TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA

PERAYAAN NATAL
BERSAMA


بسم الله الرحمن الرحيم
Dewan pimpinan Majlis Ulama Indonesia, Setelah:
Memperhatikan:
  • Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian Ummat Islam dan disangka dengan Ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
  • Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal.
  • Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah
Menimbang:
  • Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama
  • Ummat Islam agar tidak mencampur adukan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain.
  • Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT
  • Tanpa mengurangi usaha Ummat Islam dalam kerukunan antar Ummat Beragama di Indonesia
Meneliti Kembali:
Ajaran-ajaran Agama Islam, antara lain:
A. Bahwa Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan Ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas :
  • Al-Qur’an Surat al Hujurat ayat 13
    Artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49:13)
  • Al-Qur’an surat lukman ayat : 15
    Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 31:15)
  • Al-Qur’an surat Mumtahanah ayat 8
    Artinya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. 60:8)
B.Bahwa Ummat Islam tidal boleh mencampuradukan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan:
  • Al-Qur’an surat al-Kafirun: ayat 1-6
    Artinya, “Katakanlah:”Hai orang-orang kafir!” (QS. 109:1)
    “aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS. 109:2)
    “Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah.” (QS. 109:3)
    “Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:4)
    “dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah.” (QS. 109:5)
    “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. 109:6)
  • Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat: 42
    Artinya, ”Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. 2:42)
C.Bahwa Ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas :
  • Al-Qur’an surat Maryam ayat : 30-32
    Artinya, “Berkata Isa:”Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia manjadikan aku seorang nabi.” (QS. 19:30)
    “dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. 19:31)
    “dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. 19:32)
  • Al-Qur’an surat al Maidah ayat : 75
    Artinya, “Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. 5:75)
  • Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat: 285
    Artinya, “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan):”Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:”Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa):”Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. 2:285)
D.Bahwa barangsiapa berkeyakinan Bahwa Tuhan itu lebih dari Satu, Tuhan itu mempunyai anak, Isa al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas:
  • Al-Qur’an surat al Maidah ayat: 72
    Artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata:”Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. 5:72)
  • Al-Qur’an surat al Maidah ayat: 73
    Artinya, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan:”Bahwanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. 5:73)
  • Al-Qur’an surat at Taubah ayat: 30
    Artinya, “Orang-orang Yahudi berkata:”Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata:”Al-Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dila’nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling.” (QS. 9:30)
E.Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “ Tidak”: Hal itu berdasarkan atas:
Al-Qur’an surat al Maidah ayat: 116-118
Artinya, “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engaku telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. 5:116)
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. 5:117)
“Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 5:118)
F.Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas: al-Qur’an surat al Ikhlas ayat: 1-4
Artinya, “Katakanlah:”Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. 112:1)
“Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” (QS. 112:2)
“Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.” (QS. 112:3)
“dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. 112:4)
G.Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan dari pada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas:
  • Hadits Nabi dari Nu’man bin Basyir:
    Artinya, “ Sesungguhnya apa-apa yang halal itu jelas dan apa-apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu, katahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanya-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”
  • Kaidah Usul Fikih, yang artinya, ”Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan dari pada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak di hasilkan”.
MEMUTUSKAN
Memfatwakan:
  • Perayaan Natal di indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi Natal Itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  • Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumya haram.
  • Agar Ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H
7 Maret 1981
Komisi Fatwa
Majlis Ulama Indonesia

Ketua,
ttd.
K.H.M SYUKRI GHOZALI
Sekretaris,
ttd.
DRS. H. MAS’UDI

NB: Pada naskah asli fatwa MUI di atas terdapat teks Arab untuk teks al-Qur’an dan Hadits namun karena sesuatu dan lain hal (masalah teknis) kami tidak memuatnya [alsofwah]

Sanad [Mata Rantai] Para Guru dari Guru Kami, Syaikhuna Wa Ustadzuna, Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah Bersambung Sampai Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam..

محمد بن صالح العثيمين محمد بن صالح العثيمين
Berikut ini adalah mata rantai guru-guru dari Guru kami, Syaikhuna Wa Ustadzuna, Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah yang bersambung sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.. Hal ini dikenal sebutan ‘SANAD’ atau ‘NASAB ULAMA’..
Para Ulama menulis sanad seperti ini bukan untuk berbangga-banggaan atau menyombongkan diri, akan tetapi sebagai bukti bahwa ilmunya bisa dipertanggungjawabkan karena melalui prosedur yang benar sesuai aturan syari’at..
Semoga ilmu kami bermanfaat, mendekatkan diri kami kepada Allah dan bukan malah menjauhkan kami dari Allah, amiin..
Semoga Bermanfaat ..
Selengkapnya ikuti link di bawah ini:

Sikap terhadap pemimpin yang dzalim

Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -  January 25, 2013 Rosululloh shallahu alaihi wasallam bersabda : “Saya memberi wasiat kepada kalian...